*** Ber-Amal ! Sekaligus Mendapat Jasa ! ***

 *** Waspadai Sumber Keonaran & Kericuhan di Lingkungan Anda ! ***

 

 

Masyarakat Kita Suka Mengamuk ?

 

Mama, 24 thn, Bandung. 27 Nopember 2004.

 

MasIdan yang baik hati. Saya tak habis pikir dengan masyarakat kita ini. Kayaknya masyarakat kita ini sudah lekat dengan kekerasan. Segala sesuatu dengan mudah berakhir dengan kekerasan, tawuran, amukkan, kerusakan, dan darah. Eetidak mau ketinggalan pula para anggota dewan kita, yang kita hormati itu, maunya juga ingin tawuran. Seakan-akan bangsa ini mau menuju sebagai bangsa kekerasan. Saya sedih melihatnya. Segalanya sepertinya harus diselesaikan dengankekerasan’. Duh…Gusti..! gimana nich Mas ?

 

MasIdan.

 

Dik Mama yang lembut hatinya. Saya sangat setuju dengan pendapat adik. Masyarakat kita tampaknya sudah melekat dengankekerasan’. Inilah yang menjadi kegundahan hati kami. Semua persoalan sering berakhir dengan kekerasan. Berita terakhir (akhir Nopember 2004), masyarakat Bojong mengamuk, merusak dan membakar apa saja yang ada di perusahaan pengelola sampah tersebut. Hanya karena tidak setuju adanya perusahaan tersebut. Tanpa mengetahui siapa provokatornya, mereka berbondong-bondong menuju tempat perusahaan tersebut berada. Tanpa komando mereka mulai merusak apa saja, mulai dari papan nama, kaca-kaca, serta barang-barang yang ada disekitarnya. Masa menyemut menjadi banyak, bak dibakar api amarah yang sudah tak terkendali, mereka mulai merusak dan membakar barang-barang yang tidak kecil nilainya. Komputer, sepeda motor, mobil, sampai bangunannya mereka rusak dan bakar. Amarah yang muncul dari kepenatan hidup yang menghipit mereka. Luapan amarah yang sebenarnya sama sekali tak berhubungan dengan masalah tersebut. Mereka seperti menemukan tempat yang tepat untukmengaktualisasikan diridari kekeringan hidup. Kemudian dengan mudah disulut api. Bangsa kita benar-benar telah menjadi bangsa yang keras.

 

Dik Mama yang tak habis berpikir. Ada yang menarik atas kejadian tersebut, yaitu munculnya budaya tak tahu malu, tidak kesatria, pengecut, serta tak tahu diri. Kemunafikan hidup telah menyelimuti kehidupan budaya masyarakat kita. Sebuah kemunafikan yang telah memunculkankeberanian semu’. Sebuah keberanian yang muncul karena ia ada diantara mereka, bukan karena ia sendirian. Sendirian atas segala resiko yang akan dipertanggungjawabkan kemudian. Sehingga ia lebih suka menjadi penyulut api kemudian lari untuk bersembunyi. Contoh nyata dari sebuah kemunafikan diri. Kemunafikan yang melahirkan jiwa sang pengecut. Bagai mata uang yang tak terpisahkan, munafik di satu sisi, pengecut di sisi yang lainnya.

 

Namun bagaimanapun juga, kita kurang bijak rasanya, jika kita menyalahkan masyarakat kita yang lugu itu. Mereka terbentuk tak jauh dari para pemimpin, yang memimpinnya. Pemimpin yang bertanggung jawab atas tumbuh kembangnya budaya masyarakat, kemana mereka akan dibawanya. Sudah sekian lama masyarakat kita diajarkan oleh budaya kemunafikan, yang didalamnya menumbuh suburkan budaya tak tahu malu dan tidak kesatria. Budaya inilah yang menyebabkan ketidaknyamanan sebagian besar masyarakat kita. Kemudian mereka menjadi tak perdaya, lemah, dan merasa dipojokkan. Untuk melepaskan diri dari ketidakberdayaan dan kelemahan mereka, tidak ada jalan lain kecuali mengikuti arus para pemimpinya. Sehingga semakin kuatlah budaya kemunafikan itu. Sudah sekian lama budaya itu berjalan dan melaju, hingga tanpa terasa telah menyatu.

 

Namun angin telah berubah, yang mulai melemahkan angin yang lalu.  Tetapi sayang bangunan budaya itu masih berdiri kokoh, meskipun lambat laun keropos juga, sedikit demi sedikit. Tapi tampaknya itu butuh waktu yang cukup lama, untuk merobohkannya menjadi puing-puing yang berserakan. Puing-puing tersebut tetap akan ada tidak bisa dibersihkan sama sekali, ini sesuai dengan tinjauan ilmu social, Jadi kekerasan akan tetap ada walaupun dalam sekala yang lebih kecil. Ingat !, kemunafikan tetap akan selalu ada, selama yang namanya manusia masih tetap ada. Selaras dengan dinamika masyarakat yang dicoba dibangun oleh para pemimpin kita. Jadi kita harus puas dengan nilaisecara umum’ (generalisasi) bahwa masyarakat kita, tentu saja termasuk para pemimpin kita yang menjadi bagiannya, di masa yang akan datang (secara umum) mempunyaibudaya yang kesatria’. Inilah yang kami lihat sedang diperjuangkan oleh sebagian para pemimpin kita, khususnya para penguasa.

 

Untuk saat ini, tampaknya harapan itu masih jauh dan sedang diperjuangkan. Masih akan ada letupan-letupan kekerasan, tawuran dan amuk massa. Bangsa kita masih sebagai bangsa yang keras dan penuh dengan kemunafikan. Akan tetapi Adik tidak boleh berkecil hati, marilah kita mulai dari diri kita, keluarga kita, sanak-famili/handai-taulan, sahabat serta teman-teman dilingkungan kita masing-masing. Untuk dihimbau dan dijelaskan apa yang sedang terjadi pada bangsa ini. Itupun, hanya kepada mereka yang mau dan paham akan penjelasan kita tentang budaya yang pantas untuk ditinggalkan itu. Biarlah mereka yang tak mau akan menerima resiko seperti apa yang terjadi pada sebagian masyarakat bojong itu. Sebab harus diketahui bahwa merubah kebiasan yang terjadi pada sebuah masyarakat tidak semudah membalikkan tangan kita. Akan membutuh waktu yang cukup lama dan juga membutuhkan tenaga, dan pikiran yang cukup banyak dan pelik. Walau begitu marilah kita bersyukur dan mendukung apa yang sedang diusahakan para pemimpin kita, yang sampai saat ini sudah ada semangat untuk merubah dan memberangus budaya kemunafikan itu. Marilah kita doakan agar semangat itu (para pemimpin kita) tidak luntur/kalah oleh budaya kemunafikan yang penuh dengan sikap pengecut, tak tahu malu, tidak kesatria dan tak tahu diri. Yang didalamnya akan melahirkan jiwa-jiwa yang penuh kekerasan dan keserakahan. Dan yang lebih memprihatinkan kita semua, ternyata budaya itulah yang juga menumbuhsuburkan jiwa-jiwa yang ‘korup’, yang dilahirkan dari jiwa yang penuh keserakahan.

 

Dik Mama yang gundah karenanya. Sekali lagi saya ingatkan bahwa terjadinya kekerasan dan amuk masa tidak semata-mata dipertanggungjawabkan hanya pada masyarakat kita yang sedang tersulut api amarahnya. Akan tetapi juga para pemimpin kita dimasa lalu, yang telah dengan sadar atau tidak, telah menciptakan budaya kemunafikan itu. Budaya kemunafikan yang penuh ketidakadilan dan keserakahan. Sebuah budaya yang menciptakankekeringan hidup’ yang mudah sekali terbakar. Untuk itu marilah kita Bantu para pemimpin kita, yang telah mempunyai semangat untuk itu, mulai dari diri kita, keluarga, kerabat, sahabat dan lingkungan kita. Untuk tidak terperosok ke dalam budaya yang hanya menimbulkan kekerasan, ketidakadilan dan penuh dengan kekacauan itu. Semoga dik Mama puas

 

 

Topik-Topik Sosial - Politik :