|
Pacaran pada dasarnya adalah pembelajaran memahami insan yang berbeda !
Pacaran adalah proses pembelajaran memahami calon pasangan yang ada. Saling menyuka dan menyinta dua insan yang berbeda, tentu akan memberi irama tersendiri dalam prosesnya. Suatu proses di mana dua insan tersebut mencoba memahami dan memaknai hubungan mereka sebagai diri dan pribadi orang lain. Sebagai diri yang mempunyai nuansa kehidupan sendiri. Sebagai pribadi yang lainnya yang juga punya kehidupan dan pandangan sendiri. Inilah proses pembelajaran alami yang akan terjadi pada dua insan manusia untuk bisa memaknai dirinya sendiri.
Pacaran juga sebagai alat untuk belajar memahami kehidupan diri dan pribadi orang lain sebagai pasangannya ataupun calon pasangannya. Nah, pacaran itu sendiri memberi makna akan adanya ilmu tentang bagaimana memahami dan mengerti calon pasangannya. Disamping itu, pacaran juga sebagai ilmu tentang diri yang dituntut untuk belajar menempatkan diri ketika sudah merasa ada calon pasangan yang akan mendampinginya.
Di sanalah berkembang menjadi ilmu yang di dalamnya memuat banyak hal tentang hubungan dua insan yang terjadi. Maka pengkianatan, kesetiaan, cinta, kesalahpahaman, kecemburuan, komunikasi dan lain sebagainya, menjadi satu dalam ilmu tentang bagaimana kita akan belajar banyak hal pada hubungan itu sendiri.
Sebab di sanalah juga, kita akan banyak belajar akan irama yang ditimbulkan akibat hubungan itu. Ini tak jauh berbeda dengan kita, ketika kita berhubungan dengan keluarga atau masyarakat kita, hubungan itupun akan dipenuhi warna dan nuansa yang bermacam-macam. Maka jangan heran kalau kita berada dalam hubungan keluarga, famili ataupun dengan masyarakat, kita akan dihadapkan pada keadaan suka dan tidak suka. Kita akan dihadapkan pada keadaan senang dan tidak senang, sepaham ataupun tidak, cocok ataupun tidak cocok, atau segala bentuk hubungan yang ditimbulkannya.
Inilah irama hidup yang selalu akan kita pelajari, hadapi dan jalani pada setiap hubungan dengan siapapun juga. Semakin jauh jarak hubungan yang ada, maka irama yang ditimbulkannya akan serasa sayup-sayup tanpa masalah. Sebaliknya semakin dekat hubungan tersebut, maka iramapun akan semakin terdengar jelas. Semakin dekatnya hubungan serta terdengarnya irama dengan jelas, pastilah akan banyak menimbulkan pernik-pernik masalah yang akan ditimbulkannya. Sebagaimana hidup, semakin kita ingin mengerti tentang hidup, maka kitapun dituntut untuk banyak menghadapi masalah hidup, yang harus dipahami dan dimengerti.
Demikian juga dengan pacaran, sebagai buah dari rasa ketertarikan dua insan yang menjadi begitu dekat. Begitu dekat karena masing-masing seakan saling mencari dan dicari. Begitu dekatnya sehingga merekapun diharuskan belajar tentangnya (hubungan itu). Diharuskan belajar tentang pernik-pernik hidup yang dimunculkan darinya. Pernik-pernik masalah hidup, ada yang suka dan ada yang nestapa, ada yang penuh perhatian dan serasa ada yang terlantarkan, ada perbedaan, kesalahpahaman dan lain sebagainya. Walaupun awalnya pastilah membuat kita berbunga-bunga karenanya. Dan tentunya, hidup tidaklah akan terus dan terus dipenuhi dengan bunga-bunga. Kemudian merekapun akan selalu dihadapkan pernik-pernik masalah yang nyata.
Nah ! pernik-pernik masalah kehidupan yang ditimbulkan oleh begitu dekat hubungan yang ada, menjadi tidaklah bia dihindarkannya. Kemudian mereka harus menghadapinya, suka maupun tidak suka, sadar maupun tidak sadar, siap maupun tidak siap, pokoknya semua yang akan muncul pastilah akan dihadapinya. Semua itu tidak bisa tidak, karena pastilah ada.
Di sinilah banyak orang yang lebih cenderung mudah meninggalkannya dan memutuskannya dari pada menjaganya. Lebih mudah memutuskannya akibat hubungan yang ada tanpa disadarinya, harus dihadapkan pada pernik-pernik kehidupan yang ditimbulkannya. Inilah yang pantas untuk disesaliya, oleh sebab mereka kurang banyak mencari makna di balik itu semua.
Selanjutnya merekapun dengan mudah berpindah hanya karena menyalah-maknai efek-efek masalah yang pasti muncul dari hubngan yang begitu dekat itu. Dan tentu saja kalau mereka lebih mudah memilih berpindah daripada menjaga, maka merekapun banyak kehilangan makna dari hidup yang utama, yaitu menjaga. Hidup yang menjaga, agar supaya kita tidak menyerah pada kesalahpahaman dan keegoisan yang nyata. Sebab kalau mereka mau, maka peluang besar untuk bisa membangun yang lebih sempurna sangatlah terbuka lebar. Dan sikap yang tumbuh dari usaha untuk selalu berusaha menjaga akan sangat bermakna ketika suatu ketika kita berumahtangga. Sebab satu bagian terpenting memperkuat kokohnya bangunan rumah tangga adalah bagaimana kita bisa saling menjaga !
Dan sadarkah mereka jika selalu mudah memutuskan daripada menjaga, ternyata malah selalu menghadapi persoalan yang sama. Sama seperti yang semula, yaitu persoalan yang selalu muncul dibalik hubungan dekat yang selalu ingin dibangunnya. Demikian seterusnya, sehingga sikap yang mudah memutuskan ternyata malah banyak kehilangan makna. Kehilangan makna akibat merasa mereka selalu sama. Selalu sama, karena merasa sudah ada yang banyak berkurang dari semula atau awal-awalnya. Merasa awalnya penuh perhatian dan segalanya, akan tetapi kenapa ketika sudah berlangsung cukup lama, semua seakan pudar dan meredup adanya. Kenapa dan kenapa musti harus bekurang dan tidak seperti awal-awalya ? Kenapa dan kenapa musti terus terjadi dan terjadi ? Boleh percaya boleh tidak, ternyata kita sudah banyak kehilangan makna ! Kehilangan makna sebagaimana hidup lebih baik menjaga daripada meninggalkannya !
Kalau tidak percaya boleh dicoba, sebab pastilah akan menghadi persoalan yang sama ! seperti yang sebelumnya. Akan dicoba lagi, maka tidak ada persoalan lain kecuali persoalan yang sama ! Sebab beginilah hidup, kalau kita kurang mampu mengungkap makna yang ada. Dan kitapun akan selalu kelimpungan dibuatnya. Ingat jangan sampai ketinggalan satu topikpun, karena disana banyak rahasia hidup yang telah banyak dilupakan oleh sebagian besar orang. Dijamin ! Kalau anda bisa mengambil hikmah dan pelajaran dari semua topik yang ada, Niscaya serasa jiwa anda baru bangun dari tidur yang terlalu lama !. Terimakasih !
|