Artis Suka Cerai  ?

 

Maka dari itu, sebuah perkawinan ternyata harus dibekali kesiapan jiwa untuk itu. Kesiapan jiwa untuk membangun sebuah ‘ penyatuan dua insan’ yang berbeda jenis, karakter, perwatakan dan keinginan. Di sanalah manusia belajar untuk memahami istri/suami, dengan segala kelebihan dan kekurangan, pengorbanan akan egoisme diri, meninggalkan perasaan saling menangnya sendiri (karena mereka bukan sendiri lagi). Disanalah manusia belajar memenuhi kewajiban dan tanggung jawab. Kemudian di sanalah terbangun kedewasaan diri, sesuai proses alami, sebelum akhirnya mati.

 

Kesiapan jiwa seperti inilah yang ‘luput’ dari bayangan kebanyakan orang. Mereka sedang terjebak pada ‘cinta yang sedang memabukkannya’. Mereka keliru membayang kan bahwa cinta kasih yang sedang menyelimutinya, ketika sedang pacaran atau diawal perkawinannya, akan terus menerus seperti itu. Mereka telah terperangkap pada ‘pemikiran semu’ bahwa hidup bagai jalan yang selalu mulus, tidak akan ada tanjakan, jurang, dan halangan. Sehingga ketika hujan deras sedang mengguyur mereka, mereka terkejut namun tetap tidak berhati-hati dan intropeksi diri. Mereka terus melaju pesat, walau kelokkan licin di pinggir jurang dihadapannya. Peringatan petunjuk jalan tak diindahkannya, hingga mereka baru sadar ketika sudah terpeleset dan masuk jurang. Akhirnya nasi sudah menjadi bubur ! mereka tak dapat mengembalikannya.

 

Akhirnya mereka sudah cukup merasakan pengalaman pahitnya, dan mencoba belajar untuk itu. Mereka mencoba membangun sebuah ‘kendaraan perkawinan baru’ yang tak mungkin terperosok ke jurang lagi. Namun sayang, mereka menganggap bahwa jalan perkawinannya hanya akan melewati kelokan yang licin saja, tanpa menyadarinya bahwa jalan menuju kesana ternyata penuh halangan dan ujian, yang banyak jenis dan macamnya. Di sisi lain juga tak mau meluangkan sedikit waktunya untuk belajar banyak mengenai lika-liku sebuah jalan perkawinan. Hingga tak sedikit dari mereka terus menerus menghadapi musibah dalam perkawinannya, walaupun tak menginginkannya. Banyak hal yang harus mereka ketahui. Akan tetapi, mereka terlalu sibuk, takut menggangu kariernya, atau menyepelekan hal-hal yang tampaknya sepele, namun berujung pada masalah yang rumit, seakan-akan tak terpecahkan. Bagai pepatah jawa yang artinya “ mencari sesuatu yang kecil tapi malah kehilangan sesuatu yang besar”

 

Mas Ahmad yang jeli. Perceraian yang terjadi pada orang-orang yang kita kagumi, bukan sesuatu yang mudah dan gampang buat mereka. Mereka sebenarnya sangat tidak menginginkannya, dan sedih menghadapi situasi ini, Belum mereka telah menjadi bulan-bulanan media massa, yang mencari keuntungan di atas kepedihan mereka. Banyak waktu dan biaya yang mereka gunakan untuk menyelesaikan masalah tersebut. Masalah ini tidak saja akan membuat pusing yang bersangkutan saja, tapi juga anak dan kelurga besar mereka, yang sebenarnya juga tak menginginkan hal itu terjadi.

Selengkapnya ..... ?

Ingat jangan sampai ketinggalan satu topikpun, karena disana banyak rahasia hidup yang telah banyak dilupakan oleh sebagian besar orang. Dijamin ! Kalau anda bisa mengambil hikmah dan pelajaran dari semua topik yang ada, Niscaya serasa jiwa anda baru bangun dari tidur yang terlalu lama !. Terimakasih !