|
Bahagia adalah Milik Pribadi !
Mbak Sulfi yang merana, yang baru tidak bisa merasakan arti sebuah kebahagian. Mungkinkah kebahagian itu baru meninggalkan anda sendirian. Mungkinkah kebahagiaan itu datang kembali, tapi dimana jalan untuk mencari ?
Tuhan telah menciptakan kita sebagai sosok pribadi, yang bertanggungjawab atas segala apa yang telah kita perbuat, kita maui, kita pilih dan lain sebagainya. Kita tidak bisa melimpahkan kesalahan kita kepada orang lain, demikian juga sebaliknya, kita tidak bisa dibebani kesalahan yang telah diperbuat orang lain, siapun dia. Tapi memang kita bisa (membantu) mencarikan jalan keluar tehadap apa yang telah diperbuat orang lain. Hukumpun juga tidak bisa menghukum orang yang tidak berbuat pelanggaran hukum.Oleh karena itu, Kita harus menjadi sosok pribadi yang bertanggungjawab secara pribadi, dalam memilih segala-galanya yang telah dipilihnya secara pribadi.
Demikian juga dengan kebahagian, kebahagian harus menjadi milik pribadi bukan milik siapa-siapa. Akan tetapi, hak orang lain juga untuk mendapatkan kebahagian itu. Memang kebahagian itu bisa muncul di mana saja, kapan saja, sendirian ataupun dengan orang lain. Kita bisa saja bahagia dengan orang lain, namun pada dasarnya kita sendiri yang harus menciptakannya, atau orang lain itu sendiri yang juga berusaha menciptakannya. Banyak orang kurang mengerti untuk menempatkan kebahagian pribadi sebagai hak pribadi (apalagi dihadapan Tuhannya), sehingga seakan-akan mereka merasa kebahagian itu harus dengan si-A, atau si-B, atau si-C dan seterusnya. Walaupun sebenarnya yang terjadi adalah mereka masing-masing telah menciptakan kebahagiaan itu, dan selanjutnya masing-masing sendirilah yang berhak mendapatkan kebahagian yang diciptakan dan diusahakannya itu.
Ini sangat mirip ketika anda sedang bahagia mendapat karier, pekerjaan atau sesuatu yang anda harap-harapkan. Dan Anda juga sangat bahagia menjalani pekerjaan dan karier, yang memang selalu anda harap dan citakan itu. Tapi harus anda ingat, kebahagian itu muncul karena memang telah anda usaha dan ciptakan. Jadi, bukan malah pekerjaan dan karier itu yang telah memberi anda kebahagiaan itu. Lho kok ? Ingat pekerjaan dan karier adalah 'kata kerja' atau mungkin 'kata sifat'. Oleh karena itu, bagaimana mungkin 'kata kerja' atau 'kata sifat' mampu memberi kebahagiaan yang hanya bisa dirasa oleh perasaan manusia, jadi sebenarnya yang bersangkutan sendirilah yang telah menciptakan kebahagiaan tersebut, bukannya malah 'kata sifat' atau 'kata kerja' tersebut.
Jadi kebahagian adalah milik pribadi yang pantas kita terima, karena kita mengusahakan dan mengharapkannya, apapun persoalan yang sedang dihadapinya. Banyak orang salah mengerti bahwa kebahagian mereka peroleh karena pemberian dari suatu benda atau oleh orang lain. Ketika orang lain sedang memberi kebaikan-kebaikkan kepada kita, kita merasa bahagia karenanya. Dan suatu ketika orang lain telah berbuat kejahatan kepada kita, kita kelimpungan, marah dan sangat kecewa menerimanya. Maka sangatlah wajar seseorang merasa bahagia karena telah memberi kebaikan-kebaikan, mungkin kita juga merasa bahagia karenanya. Akan tetapi ada yang tidak bisa dimengerti, ketika orang lain melakukan kejahatan kepada kita, kita malah yang menanggung kesusahan tersebut (kelimpungan, marah atau sangat kecewa). Kenapa harus kita ? Padahal kita sama sekali tidak melakukan kejahatan tersebut ?
Percayalah ! Siapa yang menebar benih, ialah juga yang akan menuianya. Siapa yang menebar kejahatan, maka ialah yang seharusnya menuai hasil kejahatannya. Jadi, kenapa harus kita yang tidak melakukannya. Maka, (maaf, ini seharusnya lho) kita seharusnya tidak boleh berlarut-larut atas kejahatan dan keburukan yang dilakukan orang lain. Kita harus segera bersikap dan memilih. Memilih akan hak-hak kebahagian yang memang kita usahakan dan harapkan. Kebahagian yang tidak harus menjilat dan meminta dari orang-orang yang suka melakukan keburukan dan kejahatan kepada kita. Kebahagiaan adalah hak milik pribadi, maka kitalah yang harus menciptakannya, bukan menunggu pemberian orang lain.
Hidup memang sebuah pilihan, maka setiap langkah dalam meniti kehidupan adalah sebuah pilihan untuk dijalani. Oleh karena itu, jika kita berhenti memilih langkah hidup ini, kecuali untuk memperhitungkan dan mempertimbangkan langkah tersebut (apalagi hanya digunakan untuk meratapinya tiada tepi / batas), sama saja kita telah menghentikan hidup kita tanpa memberi arti. Menghentikan hidup, padahal kita masih hidup adalah kesalahan besar, yang tidak boleh terjadi pada diri insan manusia di muka bumi ini. Kita tidak boleh jadi pengecut menjalani hidup. Kita harus berani memilih untuk melanjutkan hidup. Ketahuilah bahwa bumi ini tidak akan memberi tempat yang tinggi bagi seorang pengecut untuk menjalani hidup. Karena mereka (pengecut) hanya akan menjadi alat dan permainan para pengecut-para pengecut lainnya. Maka dari itu, jauhilah sikap itu ,janganlah jadi bagiannya, bersegeralah memilih jalan hidup yang terus bergerak ini. Ingat jangan sampai ketinggalan satu topikpun, karena disana banyak rahasia hidup yang telah banyak dilupakan oleh sebagian besar orang. Dijamin ! Kalau anda bisa mengambil hikmah dan pelajaran dari semua topik yang ada, Niscaya serasa jiwa anda baru bangun dari tidur yang terlalu lama !. Terimakasih !
|