Hidup Bagai Sebuah Bandul !

 

Dik Tifa yang kesepian,

Inilah hidup manusia, disadari atau tidak punya kapasitas yang sangat terbatas. Ibarat sebuah lingkaran, mereka hanya akan berada dalam lingkaran tersebut. Mereka tak mungkin menambahnya sampai melebihi lingkaran itu. Atau ibarat air tak akan lebih dari satu ember (wadah air). Kalau mau dipenuhi lagi, maka pastilah akan tumpah air tersebut.

 

Untuk itu Manusia ibarat suatu timbangan, akan lebih berat kemana bandul itu berada. Karena Manusia hanya menpunyai dua sisi yang bertolak belakang di dalamnya. Bertolak belakang dari sisi baik dan sisi buruknya. Dua sisi itu haruslah ada pada diri manusia. Maka, tidaklah mungkin akan bisa dihilangkan salah satunya. Dua sisi yang ada bagai sebuah timbangan. Timbangan yang mengerah kemana bandul berada. Bandul yang pasti punya bobot yang berbeda diantara keduanya. Salah satu bobot kemana manusia akan memilihnya. Memilh untuk menambah berat ke mana bandul yang ia suka. Atau bisa juga manusia menempatkan bandul pada keseimbangannya. Atau keinginan menempatkan lebih  berat salah satunya.

 

Memang kita bisa menambah kualitas bandul yang ada pada diri kita. Meningkatkan kualitas bandul yang terbuat dari baja, sebuah bandul yang bukan dari besi tua. Kita juga bisa menggantinya dengan perak, perunggu, emas, atau bahkan permata. Itu semua bisa kita usahakan, selama kita mau memperjuangkan dengan seksama. Memperjuangkan dengan sekuat tenaga dan juga dengan seluruh daya pikir yang kita.punya. Niscaya untuk menjadikan bandul bagai sebuah permata, tetap terbuka untuk dicarinya. Semuanya pasti bisa selama kita mau usaha.

 

Inilah kenyataan yang ada pada diri manusia. Namun pada umumnya hidup manusia tidak menyadari bandul yang ada. Sudah dimana berat bandul itu berada pada dirinya. Mereka seakan tak mau tahu tentang bandul yang ada pada dirinya. Sehingga hidup mereka seakan mengalir begitu saja. Seakan masa bodoh dengan muara itu berada.

 

Inilah kenyataan yang ada dari kebanyakan manusia yang ada pada bangsa kita. Mereka seakan mengikuti arus yang ada dan tak mau tahu akan kemana. Mau kemana dan nantinya ada apa, mereka menghiraukannya. Suatu ketika mereka bisa merasakan bahwa arus tersebut telah membawanya keilalang di sana. Mereka bisa merasakannya, akan sakit yang mereka rasa ketika ilalang menyabatnya (mengenainya). Namun sayang , rasa sakit itu masih dihiraukannya. Entah tak tahu ada apa dengan mereka. Mereka tetap saja ikut melenggangnya.

 

Suatu ketika, mereka baru sadar ketika mereka telah dihempaskannya pada batu karang yang besar. Mereka baru tersentak kaget bukan kepalang. Sayang mereka terlambat untuk lari darinya. Karena arus sudah sangat melenakannya. Sehingga batu karang itu bisa meremukkan jiwa tubuhnya. Remuk berkeping-keping serasa tak mungkin untuk diperbaikinya.

 

Ketika tubuhnya sudah terperosok dalam dikehancuran jiwa badannya. Barukah mereka meratapinya, menangisinya, dan merasa tobat karenanya. Namun sayang mereka sudah terperosok amat dalam. Dan harus menerimanya akaibat ketidakwaspadaannya dalam hidup mereka. Siapakah orang bodoh yang mau yang mau membodohi dirinnya sendiri dengan keterpurukan ?

Selengkapnya ..... ?

Ingat jangan sampai ketinggalan satu topikpun, karena disana banyak rahasia hidup yang telah banyak dilupakan oleh sebagian besar orang. Dijamin ! Kalau anda bisa mengambil hikmah dan pelajaran dari semua topik yang ada, Niscaya serasa jiwa anda baru bangun dari tidur yang terlalu lama !. Terimakasih !