*** Ber-Amal ! Sekaligus Mendapat Jasa ! ***

 *** Waspadai Sumber Keonaran & Kericuhan di Lingkungan Anda ! ***

 

 

Jangan Remehkan Kemungkinan Gejolak Sosial !

Pemerintah dihadapapkan Buah Si Malakama dari Naiknya Harga BBM !

Oleh :  R.M. Sedan Mangku Lelakon

 

Keadaan bangsa yang masih carut marut akibat budaya yang tidak produktif, korupsi, dan ketidaknyaman hidup yang masih menyelimuti masyarakat bangsa. Telah menjadi beban tersendiri, yang sangat memungkinkan gejolak-gejolak sosial yang sangat tidak terduga. Selanjutnya untuk lebih mengenal keadaan masyarakat bangsa tentang kemungkinan muncul gejolak sosial Klik >>> Indonesia, Budaya, dan ‘Kekeringan Hidup‘  dan  Masyarakat Kita Suka Mengamuk.

 

 

Kenaikan BBM bisa menjadi pemicu  Gejolak Sosial Masyarakat ?

 

Kernaikan BBM, suka tidak suka telah menjadi pesimisitas hidup mereka yang seakan menjadi sangat berat. Ini bisa dimaklumi, oleh sebab keterkejutan kenaikan BBM diluar dugaan masyarakat. Masyarakat tidak mengira bahwa kenaikan BBM telah menjadi sangat tinggi, hampir 100 %. Keadaan ini tentu saja menjadi sebuah shock dalam kehidupan masyarakat.

 

Namun, beginilah model kehidupan masyarakat bangsa kita, yang lebih suka memendam masalah daripada mengungkapkan masalah, sebagai rasa protes dan ketidaksetujuannya. Kalau toh ada, itupun hanyalah sebuah kebiasaan akrobat sebagian masyarakat kita yang menyatakan ketidaksetujuan dan protesnya. Akrobat inipun, hanyalah bentuk setengah jadi dari rasa ketidakpuasan yang terjadi. Sehingga kalau toh mereka akhirnya menyerah pada sebuah aturan yang telah berjalan, merekapun melakukan atau menjalankannya dengan setengah hati.

 

Keadaan inilah yang menjadi tidak tuntas dan masih memendam amarah atau kekecewaan. Sehingga kalau kelihatan sudah bisa menerima dan seakan tanpa masalah, bukan berarti masalah selesai disitu saja. Mereka masih tetap memendam dendam pada keadaan-keadaan yang akan dihadapinya. Dan merekapun masih mudah terbakar oleh keadaan yang memungkinkan mereka menumpahkan segala amarah dan kekecewaan hidupnya. Inilah yang masih perlu diwaspadai, yang sangat mungkin bisa menyatu menjadi kekuatan sosial yang mampu memunculkan gejolak yang sporadis, tergantung keadaan yang bisa mengendalikan dan mendorongnya. Hal ini, perlu dipahami sebagai karakter masyarakat bangsa kita, yang cenderung menunggu adanya pemicu yang bisa membakarnya.

 

 

Pemerintah harus tetap waspada dan melakukan tindakan-tindakan prefentif !

 

Perlu diingat kembali di sini, bahwa bukan rahasia lagi Pertamina sebagai institusi telah menjadi bagian dari prilaku-prilaku korupsi yang masih terasa hingga saat ini. Mungkin di tingkat atas gaung itu ( prilaku korupsi ) tidak secara langsung terasa menjadi dendam-dendam dan amarah yang tersembunyi dalam kehidupan masyarakat kita. Namun di tingkat bawah, bak ada mafia yang bermain menjadi bagian dari legalitas melakukan korupsi. Tentu saja cermin di bawah tidak lepas dari prilaku-prilaku korupsi yang terjadi di atasnya. Ini logika umum yang saling kait-mengkait dan sulit untuk dibantahkan.

 

Sebagai mana pengalaman penulis yang pernah menjadi distributor dari tangki yang mendapat suplai dari pertamina. Pada kenyataan, jumlah volume minimal sebagai distributor yang seharusnya diterima sebesar 5000-6000 liter, pada kenyataanya harus menerima kurang dari jumlah yang seharusnya di terima. Taruh saja, ada selisih kekurangan yang harus diterima pihak distirbutor, biasanya berkisar antara 100 hingga 300 liter. Ini belum uang rokok yang diharapkan pihak sopir dan kenek tangki tersebut. Walaupun uang rokok ini tidak keharusan, namun bisa-bisa menjadi masalah dikemudian hari, sebagai distributor, tentu saja dengan banyak alasan yang bisa dibuatnya.

 

Mereka umumnya mempunyai alasan, bahwa kekurangan tersebut sudah terjadi saat pengisian tangki oleh pihak pertamina. Bahkan merekapun rela dikawal dan bersedia dicek pada saat pengisian tangki di pertamina. Tentu saja, keadaan ini bisa dipahami ditengah-tengah kondisi bangsa yang memang syarat dengan budaya korupsi.

 

Atau juga, budaya tersebut terbawa juga pada kasus-kasus pengisian bensin atau bahan bakar pada sepeda motor atau mobil. Pengendara umumnya harus rela memolototi meteran digital atau mekanik yang berjalan, sebab kalau tidak pengendara pasti akan tidak percaya atau malah bisa menjadi korban penipuan atas volume bahan bakar yang dibelinya. Bahkan, tak jarang pihak pegawai POM bahan bakar melakukan trik-trik tertentu untuk bisa mengelabuhi pembelinya. Ini juga bukan menjadi rahasia lagi akan budaya bangsa yang sudah cukup memprihatinkan ini.

 

Masalahnya bukan pada tindakan penipuan atau budaya korupsi itu sendiri !

Tapi dendam-dendam dan amarah yang bisa terakumalasi menjadi ketidakpercayaan

sosial !

Amarah dan dendam yang terakumulasi dari kebiasaan-kebiasaan yang terjadi di tingkat pengecer, bisa menambah daftar dorongan gejolak sosial yang menunggu memuntum yang mampu melakukan pengrusakan secara sosial.

 

Bagaimana tidak menjadi dendam dan amarah yang semakin kuat terpendam, di tengah harga yang sudah cukup membumbung tinggi itu, namun kebiasaan-kebiasaan korup tersebut bisa dipastiakan masih berjalan dan kemungkinan kecil berhenti begitu saja ! Inilah keadaan yang sangat mungkin menjadi pemicu kerusuhan yang sangat tidak terduga.

 

Dengan demikian, kenaikanharga BBM yang tidak disertai dengan usaha-usaha prefentif dalam hal pelaksanaannya, seakan menjadi bara tersendiri dalam kehidupan sosial masyarakat kita. Tentu saja, tindakan ini tidaklah mudah dilakukan, mengigat pemerintah baru memberi prioritas pada koruptor tingkat atas. Dan pada kenyataannya, pemerintah masih belum memperhatikan kebiasaan-kebiasaan korup papan bawah.

 

Sehingga, sudah sepantasnyalah pemerintah sudah saatnya melakukan usaha-usaha yang bisa sedikit menenangkan keterjutan masyarakat akibat naiknya BBM pada tingkat bawah. Hal ini perlu dilakukan sebagai usaha menciptakan kenyaman-kenyaman berkaitan dengan naiknya harga BBM. Jadi tidak ada salahnya, kejujuran yang berkaitan dengan distribusi BBM perlu mendapat prioritas, sebagai usaha prefentif.

 

Masalah Terorisme perlu mendapat perhatian, namu dampak sosial kenaikan BBM juga perlu prioritas !

Pelaku teror memang tidak akan pernah habis-habisnya, karena ini menyangkut keyakinan sebuah agama dan peta politik internasional yang dianggap belum mampu memberi jawaban terhadap adanya pelaku-pelaku teror. Sebab pelaku teror cenderung mempunyai target internasional, walaupun membawa korban masyarakat sekitar. Dan memang dampak domestik juga tidak kalah mengkawatirkan. Apalagi ada kecenderungan adanya pemahaman oleh para wisatawan manca negara, bahwa adanya teror bisa saja terjadi dimana saja dan kapan saja, sebagai sebuah resiko dari lawatan mereka ke tempat-tempat wisata.

 

Walaupun demikian, memang tidak ada jeleknya, pemerintah melakukan usaha-usaha prefentif atau menciptakan formula keamanan yang mampu mempersempit ruang gerak prilaku teror. Sebab, tampaknya terorisme telah menjadi realitas dunia yang memang ada, dan seakan telah menjadi bagian hidup masyarakat bangsa di dunia.

 

Dengan ini, pemerintah perlu diingatkan tentang dua kejadian sosial di akhir tahun ini, sebagai persoalan sosial yang harus sama-sama dipilah-pilah dan mendapat prioritas. Tidak ada salahnya ungkapan Permadi, ketika ikut demo dengan mahasisiwa, perlu menjadi peringatan dan kewaspadaan tentang kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi.  "Teroris hanya mampu membunuh puluhan atau mungkin ratusan orang, namun kenaikan BBM bisa saja membunuh berjuta-juta masyarakat indonesia yang miskin dan papa" begitulah kira-kira ungkapan Permadi saat itu.

 

 

 

Artikel, 5 Oktober 2005

 

 

Topik-Topik Sosial - Politik :