|
*** Ber-Amal ! Sekaligus Mendapat Jasa ! *** *** Waspadai Sumber Keonaran & Kericuhan di Lingkungan Anda ! ***
Psikologi Pemabuk III : Membangun masyarakat pemabuk !
Irwan,
27thn, Medan. 25 Januari 2005.
Namun seiring waktu, saat saya kuliah, ada berbagai perubahan pandangan pada diriku. Salah satu nya adalah pandangan-pandangan agama telah banyak membangun prespektifku. Bersamaan dengan itu, tanpa disadari aku mulai memisahkan diri dengan mereka. Waktu terus bekembang, pandangan dan aktifitas agama makin mengasyikkan, sudut pandang makin memetakan mana yang bermanfaat, mana yang baik, yang ideal, yang menentramkan hati, dan mana yang lebih menjanjikan untuk menjalani hidup ini. Waktu terus berlalu, yang lalu menjadi masa lalu. Sekarang mulailah saya merasakan ada sesuatu masalah, akibat perubahan diri dengan kebiasaan-kebiasaan yang lalu. Tanpa disadari aku makin menjauh dengan mereka. Awal-awalnya berjalan tanpa masalah. Namun kemudian ada tetangga, entah pengaruh dari mana, mulai mengusik jalan hidupku. Entah karena alasan yang tak kumengerti, ia tampaknya tidak suka dengan pilihan hidupku. Kebetulan dia memang orang yang suka bikin masalah. Ada-ada masalah yang dibuatnya. Semakin lama semakin menjadi, jadilah ia seorang yang ditakuti dan disegani, karena ulahnya yang menakutkan ketika ia sedang mabuk. Akhir-akhir ini, karena situasi, ia malah semakin berperan memisahkan saya dengan tetangga dan teman-temanku. Tanpa mengetahui apa yan sedang dicarinya, dia mulai menakut-nakutiku. Saya heran dan bingung dengan ulahnya. Ada saja yang dia lakukkan, mulai dari teror atau prilaku-prilaku untuk menakut-nakuti sampai kecenderungan pemaksaan dan ancaman. Sebagai orang yang beragama, semua itu aku lalui dengan penuh kesabaran. Yang menjadi pertanyaanku ialah Kenapa ia berprilaku seperti itu ? Apa maksud dan tujuannya ? Apa yang seharusnya aku lakukkan ? Dan sikap apa yang sebaiknya saya pilih ? MasIdan. Mas Irwan yang baik hati. Kami sangat salut dengan sikap anda yang penyabar itu. Kami percaya bahwa sikap penyabar adalah makna dari hidup, dan hidup sendiri akan bermakna kalau insan manusia punya sifat yang penyabar. Sebuah makna dari hidup yang menjadikan hidup lebih hidup dan bermakna. Sebelum berdikusi banyak hal tentang masalah anda tidak ada jeleknya anda membaca dulu, sebagai wawasan penunjang, klik >>> topik Psikologi Pemabuk I dan Psikologi Pemabuk II .
Membangun Masyrakat Ideal.
Begini mas, kebiasaan, pendangan, dan prilaku suatu komunitas masyarakat tertentu biasanya sudah sejak lama terbangun. Mereka (kumunitas masyarakat tersebut) seakan-akan sudah menyatu dengan pola prilaku ( sebuah sistem kebiasaan dan pandangan) yang sudah berkembang atau dianut / diyakini sebagai sebuah norma-norma dalam masyarakat tersebut. Norma-norma yang memang sudah sekian lama berjalan. Kalau toh ada perubahan, biasanya hanya berkutat pada kebiasaan-kebiasaan yang sudah ada. Seakan-akan tidak akan pernah ada perubahan-perubahan yang cukup berarti. Kecuali dalam komunitas masyarakat tersebut ada 'kekuatan-kekuatan' tertentu yang mampu membangun perubahan itu.
Dan perubahan-perubahan itu sangat bergantung dengan munculnya 'kekuatan-kekuatan baru' yang akan mewarnai pola prilaku masyarakat tersebut. Perubahan-perubahan tersebut bisa menuju kearah yang lebih baik, atau senaliknya menuju ke arah yang lebih buruk. Ini sangat bergantung dengan kemampuan 'kekuatan-kekuatan' yang membangun perubahan tersebut, baik yang memang sudah direncanakan atau sama sekali tidak direncanakan. Perubahan-perubahan yang tidak direncanakan dalam pola prilaku masyarakat, umumnya menuju ke arah pola prilaku yang kontra (tidak) produktif, bobrok dan kumuh secara moral. Dan juga biasanya keadaan ekonomi mereka sama sekali tidak menunjukkan perubahan-perubahan, bahkan malah mengalami kemunduran-kemunduran akibatnya. Inilah komunitas-komunitas yang banyak melahirkan banyak penyamun, yang keluar dari sarang penyamun.
Inilah yang kami kawatirkan terjadi pada apa yang sedang anda hadapi. Kami khawatir pada lingkungan masyarakat anda, sedang atau telah ada 'kekuatan-kekuatan' tertentu yang kami perkirakan akan mempengaruhi masa depan 'pola prilaku' masyarakat tersebut. Di sisi lain sadar atau tidak, anda berada pada kekuatan lain yang pantas diperhitungkan akan mempengaruhi masa depan komunitas masyarakat tersebut. Dan itu sangat bergantung pada kemauan anda sendiri ?
Selanjutnya anda akan menghadapi beberapa opsi atau pilihan untuk memilihnya. Opsi pertama, sebelumnya mohon maaf, bukan maksud kami untuk menganjurkan anda untuk melakukannya, namun kami hanya ingin anda tahu 'peta' yang ingin kami kemukakakan. Yaitu adalah, jika anda berani menghadapi segala resiko yang mungkin akan terjadi, yang sulit untuk diduga, dikarenakan banyak faktor yang berperan dalam proses tersebut. Faktor-faktor tersebut antara lain adalah keadaan anda sendiri, 'kecerdikan kekuatan' lain yang siap merespon perubahan yang dirasa merugikan mereka (dalam banyak hal), dan keadaan yang ada, yang sedang berjalan, sebagai unsur penunjang atau penghambat perubahan tersebut.
Sebuah resiko yang akan anda perjuangkan untuk mempengaruhi pola prilaku masyarakat itu. Ini tidaklah mudah, sebab dibutuhkan kecerdiakan dan kehati-hatian untuk melakukkan sebuah permainan. Permainan dalam sebuah pertandingan yang harus dikalahkan. Tentu saja permainan dalam pertandingan diperlukan tatik-tatik dan strategi tertentu untuk mampu mengalahkan. Di samping itu anda harus pandai-pandai menangkap ikan tanpa harus memperkeruh airnya. Karena kalau tidak. anda justru akan berhadap-hadapan dengan masyarakat tersebut, yang disebabkan karena adanya 'kejelian kekuatan lain' yang mampu memperlemah usaha anda, jika anda memperkeruh airnya. Sebab kalau begitu dapat dipastikan anda akan kalah dalam 'permainan besar' tersebut.
Opsi kedua, Kalau anda tidak memliki keberanian untuk membuat perubahan dalam masyarakat tersebut, bersiap-siaplah untuk hengkang dari lingkungan itu. Sebab anda akan menghadapi ujian-ujian yang tidaklah ringan. Adanya teror yang hanya untuk menakut-nakuti sampai kebencian masyarakat yang mungkin belum paham dengan maksud, rencana dan harapan anda terhadap masyarakat tersebut. Kalau toh anda mencoba menjelaskan, tidak ada jaminan anda akan mendapat dukungan yang lebih dari seharusnya. Hal ini disebabkan karena sesuatu yang baru (kebiasaan atau perubahaan yang baru pada diri anda) dalam sebuah kebiasaan pola prilaku masyarakat, oleh masyarakat dianggap sebagai ancaman ataupun gangguan terhadap pola prilaku dan kebiasaan yang sudah dianggapnya sudah mapan dan berlangsung sekian lama. Baik disadari atau tidak, dimengerti atau tidak, ataupun diketahui atau tidak, punya dampak baik atau tidak, dan lain sebagainya. Mereka umumnya tidak suka (senang) ada perubahan yang dikawatirkan menimbulkan konflik-konflik yang dianggap cukup mengusik kehidupan mereka. Belum lagi, oleh sebagian masyarakat yang merasa dirugikan atas perubahan tersebut, tentu saja mereka akan mempertahankan dengan segala cara dan kemampuan.
Namun sekali lagi mohon maaf, harus dipertimbangkan juga kalau di lingkungan itu ada sanak famili dan handai tolan atau malah anak didik dan kader anda. Mereka bisa jadi masa depannya ada ditangan anda. Sebab kalau anda tidak mampu dan punya keberanian untuk itu, mereka kemungkinan besar akan menjadi bagian dari komunitas tersebut, tidak bisa berkembang atau mungkin akan berhenti begitu saja, atau malah lebih buruk lagi. Kalau toh ada sedikit perbedaan paling-paling tidak akan punya arti apa-apa. Memang kami akui, ini semua tidaklah mudah sebab diperlukan kemampuan-kemampuan tertentu untuk melakukannya. Oleh karena itu, bukan hanya dibutuhkan sebuah keberanian saja , tetapi juga kecerdasan, kcerdikan, dan kejelian-kejelian tertentu untuk melakukan perencanaan yang matang dan fleksibel. Kefleksibelan dalam sebuah perencanaan sangat diperlukan untuk bisa menangkap ikannya tanpa harus memperkeruh airnya. Fleksibel dalam artian bukan asal tabrak saja, akan tetapi bagaimana kita mampu mengendarai sebuah rencana itu, yang kadang-kadang cepat lajunya, kadang-kadang melambat, atau malah berhenti untuk sementara, bahkan jika sangat diperlukan tidak ada salahnya untuk mundur beberapa saat kemudian maju lagi. Dan seterusnya dan seterusnya, begitulah laju kendaraan 'rencana' yang harus melewati jalan yang mempunyai perasaan dan keinginan.
Opsi ketiga, Kalau anda masih ingin tinggal dilingkungan tersebut dan berusaha menyesuaikan diri dengan keadaan-keadaan yang ada. Maka, bersiap-siaplah untuk menanggalkan idielisme-idealisme anda. Dan kalau anda tidak punya kejelian-kejelian untuk menjaga diri, maka tidak menutup kemungkinan, lama-kelamaan tanpa disadari, justru anda akan menjadi bagian dari mereka. Dan ini bisa lebih buruk lagi pada keadaan-keadaan selanjutnya. Ini bisa dimengerti, sebab mereka (kekuatan yang lain tersebut) meresa tidak rela atau merasa masih terancam jika mereka masih menganggap anda mempunyai kebiasaan-kebiasaan yang berbeda dengannya. Kekhawatiran itu akan terus ada selama anda belum benar-benar menyatu dengan mereka. Banyak cara yang biasanya mereka lakukan untuk membuat anda bisa seperti mereka atau mempunyai pandangan yang sama dengan mereka. Baik dengan cara yang memaksa, mengajak secara halus, terselubung, atau membuat anda tidak menyadari untuk benar-benar menjadi bagiannya.
Kebiasaan-Kebiasaan Para Pembuat Onar
Kembali kemasalah semula. Sebagai seorang yang berbudi baik dan mulia dalam hidup bermasyarakat tentu saja ada yang suka dan tidak suka terhadap anda, ini adalah sebuah dinamika hidup. Sebuah dinamika yang harus dihadapi insan manusia untuk melangkah hidup. Namun gambaran singkatnya adalah orang-orang yang simpati atau menyukai anda, ialah orang-orang yang mempunyai sifat dan moral tak jauh dari sifat dan moral anda. Demikian juga sebaliknya, orang-orang yang tidak senang dan munkin malah anti-pati dengan anda, mereka tidak lain dan tidak bukan orang-orang yang mempunyai sifat dan moral yang bertolak belakang terhadap moral dan sifat anda.
Mereka, yang bertolak belakang dengan anda, tentu saja terusik dengan keberadaan anda. Ada banyak macam dan tipe seseorang yang tidak menyukai anda. Tipe-tipe tersebut ada yang tidak suka dengan anda tapi cuma diam tidak mau berbuat sesuatu yang mungkin akan merugikan anda, semacam penunujukkan ketidaksukaan yang tak nampak (laten). Ada juga ketidaksukaan yang nampak tetapi juga tidak melakukan apa-apa, hanya penunjukkan ketidaksukaan saja. Dan terakhir adalah ketidaksukaan yang tampak disertai perbuatan-perbuatan yang sangat mungkin merugikan diri anda.
Yang terakhir inilah, yang umumnya berperan melakukan sesuatu yang bisa merugikan diri anda. Dialah yang berpotensi menjadi faktor penggerak untuk berbuat sesuatu yang dapat mempersulit keberadaan anda. Apalagi kalau ia mempunyai moralitas yang sangat buruk namun lihai mempermainkan anda dalam teror-teror yang dibuatnya, untuk memperlemah keberadaan anda. Lebih buruk lagi, tentu saja dia akan mendapatkan dukungan langsung maupun tidak langsung dari kedua tipe orang sebelumnya, yang tidak menyukai anda. Kelihaian, kelicikkan, dan kecerdikannya sangat mempengaruhi tingkat kesulitan yang akan anda hadapi.
Ini terbukti dengan kemampuannya semakin memisahkan diri anda dengan teman dan tetangga anda. Ia terus akan selalu berusaha membuat jebakan-jebakan berupa teror, gangguan, dan segala prilaku yang ujung-ujungnya hanya akan makin mempersulit diri anda dengan harapan anda akan tunduk dan menjadi bagian dari mereka. Dan itu takkan terhenti, selama anda masih mempertahankan idealisme hidup anda. Kecuali anda juga ikut menciptakan permainan-permainan yang mampu memperlemah kesombongan, keangkuhan, dan kesalahan pola prilaku yang sudah tidak produktif lagi (walaupun tidak disadarinya), yang tidak memberi masa depan pada setiap generasi yang menjanjikan.
Kalau anda sudah membaca Psikologi Pemabuk I dan Psikologi Pemabuk II , tentu anda akan sedikit-banyak mengetahui siapakah sebenarnya si pembuat tingkah dan keonaran itu.
Mereka pada umumnya hanya menciptakan permainan-permainan untuk menakut-nakuti seseorang supaya ketakutan saja. Pada kasus-kasus tertentu, memang permainan itu bisa saja membawa korban luka atau jiwa. Namun pada kasus ini, kebanyakakan telah banyak disusupi oleh dendam-dendam, dan masalah lain yang menumpang pada permainan itu, misalnya masalah wanita, perebutan lahan penghidupan, SARA, serta golongan. Oleh sebab itu, menumpangnya masalah ini, sebisa mungkin untuk dihindari dan dijahui. Sebab menurut hemat kami, masalah tersebut kurang atau malah tidak berhubungan sama-sekali dengan masalah yang sedang anda hadapi.
Kembali kepada si pembuat tingkah dan keonaran, umumnya mereka punya kebiasaan-kebiasaan tertentu, yang hampir mirip dan berulang-ulang, walau pada dasarnya sama saja tujuannya, yaitu membuat ketakutan, mencari eksistensi diri, atau memperkuat eksistensinya supaya tidak terkesan memudar. Dari banyak kasus yang kami pelajari dan amati dari kebiasaan-kebiasaan mereka (pembuat ulah, keonaran atau pemabuk) adalah menakut-nakuti (teror) orang yang tidak disukainya atau memang akan menjadi sasarannya. Ada banyak bentuk dan prilaku yang biasa dilakukan olehnya, seperti dari berteriak-teriak, membawa senjata tajam, mengamuk merusak barang-barang dan banyak hal yang dilakukannya. Namun semua itu, kebanyakkan tidak jelas maksud, alasan dan tujuannya.
Tentunya masih banyak lagi prilaku-prilaku yang lain, namun pada intinya, kebanyakkan, supaya mereka dianggap pemberani, sadis, kejam dan tak jarang ingin dianggap sakti yang mempunyai kekuatan magis (kebal senjata misalnya) dan sejenisnya. Dalam kasus-kasus tertentu, mereka bisa saja menganiaya dan merusak barang milik orang lain, namun itupun dikarenakan mereka dalam posisi lemah dan takut untuk melawannya. Jadilah kebanyakkan orang-orang yang lemah dan penakut itu menjadi sasarannya, walaupun tidak jarang mereka sebenarnya tidak tahu menahu dan sama sekali tak berhubungan. Inilah kelicikan untuk mencari sasaran demi menunujukkan eksistensi pada dirinya, mau enaknya sendiri mencari sasaran empuk yang tak ada kaitannya.
Mereka sering berteriak keras-keras yang tak jelas maksud tujuannya, misalnya berteriak-teriak mau membunuh seseorang, tetapi tidak jelas orang tersebut, malah biasanya sama sekali tidak ada orang yang dimaksudkannya. Atau mungkin berteriak-teriak menantang seseorang, namun tidak jelas siapa yang ditantangnya. Pokoknya banyak hal dan prilaku aneh-aneh yang sering dilakukannya, yang pada dasarnya hanya untuk mencari perhatian banyak orang, supaya mereka menganggapnya dirinya sebagai seorang yang kejam dan bengis.
Pada dasarnya, mereka tak ubahnya seperti anak kecil yang sedang menunjukkan keberaniaannya dengan menakut-nakuti induk ayam yang sedang mengasuh anak-anaknya. Dengan segala alat (kayu atau bambu) dan berbagai cara untuk menghalaunya. Namun ketika diserang oleh induk ayam tersebut, larilah anak itu terbirit-birit ketakutan. Namun ketika sudah lihai dan tahu bahwa sesungguhnya seekor induk ayam itu adalah mahkluk yang lemah dan kecil, ia selalu menghalaunya ketika akan mendekati bahkan tak segan-segan menendangnya keras-keras ! Akan tetapi, apa yang terjadi ! Jika yang ia hadapi adalah seekor induk harimau, pastilah ia sama sekali tidak akan pernah memberanikan diri untuk mendekatinya ?
Pecundang dan Pengecut
Seorang pecundang umumnya punya 'pola' kejiwaan yang berlawanan dengan apa yang menjadi anggapan banyak orang. Mereka (pecundang) sering berprilaku seakan-akan dirinya adalah seorang pemberani, kejam, bengis, urakan, dan semua prilaku yang berkaitan dengan kekerasan. Namun sebenarnya yang terjadi adalah ketidakberanian dan ketakutan pada dirinya untuk diketahui sebagai seorang pengecut dan pecundang. Menutupi-nutupi keadaan dirinya yang sebenarnya mempunyai rasa takut dan tak bernyali, yang berharap orang lain tidak mengetahuinya.
Banyak hal yang mereka lakukan untuk menampak-nampakkan diri dihadapan banyak orang. Seakan-akan prilaku tersebut menunjukkan apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya. Dan anehnya, lingkungannya tersebut beranggapan begitu. Anggapan lingkungannya inilah yang semakin mendorong dia bertambah percaya diri dan berusaha sekeras mungkin untuk mempertahankan status tersebut pada dirinya.
Proses di atas sangat bergantung dengan kecerdikkan dan kecerdasan yang bersangkutan, akankah berakhir dalam jangka waktu yang lama atau suatu ketika akan terbongkar siapa sebenarnya dirinya. Atau karena proses belajar tersebut, ia kemudian memang mampu menjadi sebagai seorang pemberani yang 'semu'. Yang karena mempunyai tingkat kecerdikkan dan kelicikan tertentu, ia masih mampu mempertahankan anggapan orang akan dirinya. Pemberani yang semu dapat diumpamakan sebagai seorang pesulap yang tampak mempunyai ilmu kesaktian yang mampu menghilangkan sesuatu barang, hanya dengan sekali gerakan. Akan tetapi sejatinya yang terjadi hanyalah trik-trik yang ia kuasai, tentu saja dengan kecerdikan dan kelihaian tertentu yang ia miliki, sehingga akan nampak sesuatu itu hilang dengan sendirinya.
Banyak orang yang salah sangka memahami dan mengetahui bagaimanakah sosok pemberani yang sejati itu. Mereka umumnya tidak bisa membedakan mana seorang pecundang dan seorang kesatria sejati. Tidak jarang malah seorang kesatri itu dianggapnya sebagai pecundang yang hanya prilakunya tidak menguntungkan dirinya. Tentu saja ini mustahil dilakukan seorang kesatria yang tidak mudah dimanfaatkan demi keuntungan-keuntungan orang-orang tertentu. Sehingga seorang satria biasanya pandai-pandai menjaga diri dan jarak, agar tidak terjebak kepada pemanfaatan dan provokasi dari seorang pecundang dan pengecut.
Pada kenyataan atas ketidaktahuan tersebut, mereka justru dimanfaatkan oleh sorang pecundang dan pengecut, yang telah dianggapnya sebagai seorang pemberani tersebut. Mereka tidak tahu dan menyadari telah sering dijadikan tameng dan korban kepengecutan seseorang atas ketidaktahuan tersebut. Inilah contoh dari sebuah kelicikan yang kejam, yang sering tidak disadari oleh korban yang telah dikorbankannya. Hanya dengan omong kosongnya, hanya dengan suara besarnya, hanya dengan licinnya gaya bicaranya, tindaktanduknya, dan lain sebagainya. Kalau sudah begitu, siapakah yang sebenarnya orang yang paling bodoh itu ?
Mudah-mudahan ini sudah lebih dari cukup. Terimakasih atas kepercayaan Anda kepada kami. Selamat Berjuang, Berusaha Dan Memilih Jalan Hidup Anda...!
Topik-Topik Sosial - Politik :
|