*** Ber-Amal ! Sekaligus Mendapat Jasa ! ***

 *** Waspadai Sumber Keonaran & Kericuhan di Lingkungan Anda ! ***

Topik Aktual Selebritis Lainnya !!!

 

 

Cut Keke, Hughes, Dan Siapapun juga !

Kegagalan Perkawinan Pertama, Berpeluang manjadi Kegagalan Perkawinan selanjutnya !

 

 

 Masa Transisi dalam memasuki kehidupan berrumah tangga, merupakan penentu kokoh tidaknya bangunan jiwa !

 

Usia Pernikahan di tahun kedua adalah masa krisis bagi wanita dalam mempertahankan rumah tangganya. Masa krisis wanita dalam rumahtangganya, oleh sebab tuntutan situasi setelah mempunyai anak pertama. Belum lagi, masa krisis yang kedua, oleh karena masa pubertas suami yang harus terulang kembali, yang juga akan menjadi masa-masa sulit bagi wanita membangun jiwa dalam rumah tangganya !

 

Tuntutan situasi, akan proses jiwa setelah melahirkan, mengasuh anak dan menghadapi suami. Proses jiwa di mana seorang wanita harus merasakan sakitnya melahirkan. Proses jiwa, di mana seorang wanita merasa dituntut lebih (direpotkan) mengasuh anak bayinya. Proses jiwa, di mana suami juga merasa mempunyai hak terhadap dirinya.

 

Proses jiwa, di mana seorang wanita harus mengalami masa-masa sulit, akibat beban-beban yang harus ditanggung dan dihadapinya. Masa-masa sulit, sebagai keharusan menjadi ibu rumah tangga yang sejatinya. Masa-masa sulit menjadi ibu rumah tangga, yang ternyata sangat jauh berbeda ketika masih menjadi dirinya. Menjadi diri, sebagai wanita yang masih banyak waktu luang, kebebasan, dan segala apresiasinya yang seakan tak terbataskan oleh adanya beban.

 

Proses jiwa inilah yang menjadi penentu masa transisinya. Masa transisinya, sebagai diri yang dulu menuju 'diri' sebagai ibu rumah tangga sejati. 'Diri' ibu rumah tangga yang tidak sehebat dulu, ketika masih menjadi diri sendiri. Sehebat dulu, yang selalu bertebaran sanjungan dan gemerlapnya bintang. Tidak sehebat dulu, karena telah menjadi tidak lebih dan tidak kurang oleh seorang yang sudah tahu sampai ke relung yang paling dalam. Tidak sehebat dulu, karena sanjungan dan gemerlapan bintang seakan menjadi banyak berkurang. Banyak berkurang dihadapan seseorang yang sudah tahu dirinya luar-dalam. Banyak berkurang, oleh sebab rasa diri yang ada, tidak pernah terbayangkan. Tidak pernah terbayangkan, karena harus dihadapkan pada keadaan yang tidak harus bertebaran sanjungan dan gemerlapnya bintang !

 

Inilah masa penentu, bagi siapa saja yang akan mempertahankan rumah tangganya. Mampukah mereka menjadi ibu rumah tangga yang harus ditegakkan, atau mereka ketakutan oleh adanya bintang. Adanya bintang, yang menginginkan yang lalu tidak boleh berubah dan berkurang. Tidak boleh berkurang oleh adanya sosok menakutkan yang bernama istri belahan hati.

 

Ataukah mereka masih ingin menjaga bintang yang tak ingin berkurang, ketika keluar di langit yang terang. Namun, masih mampu menjadi istri yang berbudi ketika harus kembali di sayupnya rumah pengharapan. Sayupnya rumah pengharapan, yang di dalamnya anak-anak dan suami menunggu penuh harapan ?

 

Ataukah hanya ingin menjaga bintang belaka, namun tak mampu kembali menjadi ibu dan istri yang diharap-harapkan ?

 

 

Ketidakmampuan menempatkan diri, akan menjadi bumerang bagi dirinya sendiri !

 

Bagaimana tidak merasa terpuruk menghadapi kehidupan rumah tangga, yang harus menjadikan mereka menjadi seorang istri. Seorang istri yang dulunya, adalah orang yang disanjung, dielu-elukan, menjadi pusat perhatian banyak orang, sebagai bintang dan selalu mendapat tempat yang terhormat di manapun mereka berada.

 

Tiba-tiba, setelah beberapa saat menikah, mereka merasa dipandang rendah, disepelekan bahkan sudah serasa dilecehkan kehormatan. Perasaan-perasaan telah dipandang rendah, disepelekan dan dilecehkan, akibat irama hidup berumah tangga yang mengharuskan mereka menghadapinya.

 

Perasaan-perasaan yang terjadi, sebagai sebuah kenyataan umum yang akan terjadi dalam berumah tangga. Kenyataan umum yang dapat dipastikan muncul, di sebabkan mereka memang dituntut untuk belajar hidup yang terus berubah dan berkembang.

 

Belajar hidup, yang diharapkan untuk mampu memahami kenyataan hidup yang seharusnya. Kenyataan hidup yang mengharuskan mereka belajar untuk memahami kenyataan, bahwa ternyata mereka adalah mahkluk yang berbeda. Mahkluk yang berbeda, agar supaya belajar memahami bahwa hidup tenyata sebuah dinamika.

 

Sebuah dinamika, mengapa mereka harus merasakan direndahkan dan dilecehkan. Sebuah dinamika, sebagai panggilan nurani yang asli agar supaya dituntut mengusahakan perubahan diri. Perubahan diri yang bukan sendiri lagi. Perubahan diri, di mana sanjungan dan kehormatan bukanlah menjadi milik sendiri. Perubahan diri, yang menuntut semua menjadi milik bersama suami.

 

Kesadaran diri, untuk saatnya menempatkan diri membangun komunikasi sebagai seorang istri !

 

 

Bangunan Irama musik pada awal-awal perkawinan, sangat menentukan irama musik selanjutnya !

 

Ketidakmampuan memahami dan belajar irama musik sebuah dinamika lagu perkawinan, akan menjadi jiwa hati menjadi kaku dan bisu. Kaku dan bisu, oleh karena ketidakmampuan menerima dinamika perubahan yang harus diterima setiap insan manusia. Dinamika perubahan setiap insan manusia, yang ingin menjalani hidupnya dengan sempurna dan sebagaimana mestinya.

 

Kekakuan dan kebisuan yang ada di hati, dalam memaknai jalan perubahan yang harus dihadapi, pastilah akan membatu dan sulit mencair oleh cepatnya waktu. Sehingga, usaha untuk mencoba dan mencoba lagipun, harus runtuh oleh kebekuan hati yang sudah sangat pilu ini.

 

Waktupun takkan pernah bisa berhenti ! Untuk itu, selama keangkuhan hati yang punya tidak menyadari akan kekakuan dan kebisuan yang telah terjadi dalam hati ini, maka menjadi sangat sulitlah mengahadapi hidup yang kurang lebih sama terjadi!

 

Hidup yang kurang-lebih sama, namun selalu dihadapi dengan keangkuhan hati yang kaku dan bisu, maka hasil yang diraihpun akan menjadi sama, yaitu ; Kegagalan demi kegagalan, kekecewaan demi kekecewaan dan kepedihan demi kepedihan.

 

Dan tidak ada lagi yang hanya bisa meratapi pemilik hati, kecuali pemilik keangkuhan hati yang kaku dan bisu itu sendiri !

 

Dan juga, tidak ada lagi yang hanya bisa meratapi pemilik hampanya hati, kecuali suami yang angkuh dan tak tahu diri !

 

 

Minggu, 25 Juli 2005

Ingat jangan sampai ketinggalan satu topikpun, karena disana banyak rahasia hidup yang telah banyak dilupakan oleh sebagian besar orang. Dijamin ! Kalau anda bisa mengambil hikmah dan pelajaran dari semua topik yang ada, Niscaya serasa jiwa anda baru bangun dari tidur yang terlalu lama !. Terimakasih !