Kebohongan adalah Lelucon yang sangat Nyata !

 

Sudahlah dik anda masih muda, apapun kepandaian anda kalau hanya soal karang mengarang cerita pasti akan ketahuan juga. Karena sangat jelas karangannya dan seperti apa hasilnya, orang dewasa (khususnya di lingkungan pondok itu) sangat akan tahu segala prilaku yang akan anda pentaskan nantinya. Jadikanlah ini lelucon yang sekali saja, bukan yang berikut-berikutnya. Apa kita tak ingin punya rasa malu, yang selalu ingin membuat lelucon yang berikut-berikutnya. Sebuah lelucon yang pasti akan ketahuan siapa pengarang ceritanya. Kami yakin suatu ketika adik ingin sekali membuat lelucon-lelucon baru yang mungkin sangat canggihnya. Namun kakak berani menjamin, kecanggihan anda mengarang cerita tak akan bisa mengalahkan kecanggihan mereka untuk mengetahui siapakah pengarang ceritanya. Masih ingin membuat lelucon lagi ?

 

Tidak ada sejarah dalam perjalannan umat manusia, yang bisa jaya hanya di lakukan dengan kebohongan belaka. Mereka malah menjadi bahan lelucon gratisan, yang nerocos omgannya. Omongan tentang kebohongannya yang sudah banyak di ketahui para pendengarnya. Mereka mendengar seakan penuh dengan perhatian dan kekagumannya. Bahkan mereka sering terseyum dan tertawa mendengar kebohongan yang dibuatnya. Hebatnya lelucon yang dibuat pembohong itu, tidak disadarinya. Tidak disadarinya bahwa para pendengar itu sudah tahu kalau dia telah membuat lelucon akan kebohongannya.

 

Berapa tenaga dan pikiran yang digunakannya untuk membuat lelucon akan kebohongannya. Jangan dikira mereka membuat lelucon tanpa pikiran dan tenaga, walaupun mungkin tak disadarinya. Kakak sangat heran yang sering dilakukan para pembohong yang sangat nyaring bunyinya itu. Tidak kapok-kapoknya mereka melakukan kebohongan, walaupun disekitarnya sudah sangat tahu siapa pemainnya. Tragisnya si pemain itu tidak tahu kalau pendengarnya tahu, kalau ia telah membuat lelucon tentang kebohongannya. Aualah mak ! Sudah banyak kehilangan tenaga dan pikiran yang digunakanya, ternyata hanya ditanggapi dengan seyuman yang sama sekali tidak mempunyai makna apa-apa. Pokoknya kasihanlah mereka.

 

Belum lagi pekerjaannya yang terus menerus menutupi kebohongan yang sudah diketahui banyak orang itu, ditambah prilaku yang terkasan gagah dan perkasa. Prilaku yang seakan gagah dan perkasa, hanya demi lebih menyakinkan penampilannya untuk menutupi kebohongannya itu, padahal semua orang sudah mengetahuinya, siapakah dia sebenarnya. E... sudah ketahuan kebohongannya, e... masih bisa berlagak lagi. E..aulah..mak... kok bisa-bisanya !

 

Memang para pembohong tu akan mendapat tempat yang cukup terhormat untuk sementara waktu, di lingkungan barunya. Ya itu tadi, karena siapakah pembuat leluconnya, mereka belum mengenalnya. Namun waktu akan terus berjalan untuk selalu menunjukkan kebenarannya. Karena waktu tak akan pernah bisa untuk dibohongi dengan apapun juga dan kecanggian seperti apapun supernya. Waktu akan tetap menunjukkan kebenaran yang telah terjadi di dalamnya. Jadi nasib para pembohong itu hanya tinggal menunggu waktu untuk membongkarnya. Membongkarnya, siapakah yang telah menjadi pembuat lelucon tentang kebohongannya itu. Prilaku kebohongan yang seakan hanya sesaat saja untuk bisa dinikmatinya.

 

Namun dasar pembohong yang tak mau belajar pengalaman dan hikmahnya. Jangan heran kalau mereka lebih senang berpindah-pindah lingkungan barunya, yang mungkin bisa menerima lelucon kebohongannya. Kemudian mereka seakan bisa tampil dengan gagah dan perkasanya, demi untuk menutupi kebohongannya. Kepalanya serasa di dongakkan keatas danga senyum sungging yang serasa membanggakannya. Ia lakukan itu demi orang semakin percaya dengan omongan nerocosnya. Omongan yang seakan nyaring bunyinya. Omogan yang seakan sangat enak didengarnya. Omongan yang seakan sangat menyakinkan. Sangat menyakinkan karena dilakukan  dengan tenaga dan pikiran yang sudah terlatih membuat lelucon kebohogan.

 

Namun sayang waktu adalah kebenaran. Dan waktu tidaklah mungkin bisa dibohongi, di bohongi oleh siapa saja yang hidup di bumi ini. Namun herannya, mereka bisa merasakan jika kebohongannya itu akan terbongkar. Sebuah naluri yang terlatih untuk mendeteksi kebohongannya, yang akan segera terbongkar. Maka bersiap-siaplah mereka berbenah diri untuk mencari tempat yang baru, demi untuk mempertahankan kenikmatan menjadi sang pembohang yang sejati. Namun dasar pembohong yang tak tahu diri, tetap saja tidak ingin menghentikan membuat lelucon kebohongan, yang sama sekala tidak lucu itu. Mereka hanya akan mengejar keuntungan-keuntungan sesaat saja. Mereka hanya mengejar kenikamatan-kenikmatan yang sesaat saja. Mereka hanya merasa puas mendapat kehormatan sementara waktu saja, dengan kebohongannya.

 

Kami heran, mereka belum kapok-kapok juga menghadapi kebohongan-kebohongannya. Namun banyak dianatara mereka akan berhenti dengan sangat terpaksa karena sudah terbentur dengan tembok besar. tembok besar yang sudah tidak memberi tempat bagi dia untuk berbuat kebohongan lagi. Tembok-tembok besar yang baru menyadarkan mereka jika sudah membawanya ke penjara. Tembok besar yang telah menjebaknya ke kasus yang rumit dan besar. Tembok besar yang menjadikan ia sudah sangat terperosok jauh di dalamnya. Saat itulah mereka baru menyadarinya. Menyadarinya kalau ternyata Menjadi pembohong itu hanyalah akan menjadi malapetaka !

 

 

Maka bagi Siapa Saja yang ingin Menunai Malapetaka, maka Sebarkanlah Kebohongan yang ada ! Dan di Jamin, Siapa Saja akan Menyesalinya, setelah Terperosok Jauh ke dalam sana !

Selengkapnya ..... ?

Ingat jangan sampai ketinggalan satu topikpun, karena disana banyak rahasia hidup yang telah banyak dilupakan oleh sebagian besar orang. Dijamin ! Kalau anda bisa mengambil hikmah dan pelajaran dari semua topik yang ada, Niscaya serasa jiwa anda baru bangun dari tidur yang terlalu lama !. Terimakasih !