Memang Lelucon dari Sono-nya !

 

Mas Lanto yang sedng kecewa berat,

Kami sangat hean dengan nenek Saudara Lanto ini. Ada sesuatu yang nggak beres telah terjadi padanya. Sehingga beliu bertindak tidak sewajarnya. Segalak-galaknya seorang nenek kepada seseorang (misalnya ibu anda sebagai anaknya atau dengan orang lain), tidaklah akan sama ketika menghadapi cucunya. Inilah yang kami herankan terjadi kepada anda. Namun sayang anda telah menanggapi dengan serius masalah tersebut. Sehingga anda merasa tertekan karenanya.

 

Lho kok ?

Ada cerita menarik dari seseorang, yang kebetulan mempunyai tetangga yang amat-sangat galaknya. Kegalakannya sudah sangat dikenal di lingkungan sekitar, tempat ia tinggal. Banyak orang heran dengan sikap dia (seseorang itu) Karena kebetulan tempat tinggalnya bersebelahan dengan si suka galak tersebut. Dia sangat sering kena damprat dan makian yang keluar dari mulutnya.

 

Banyak orang heran dengan sikapnya yang terkesan biasa-biasa saja bahkan nyaris tenang sama sekali, tanpa reaksi. Ketenangan menghadapi kegalakan yang sering tak terduga. Suatu ketika, ada orang yang bertanya kepadanya. Kenapa ia selalu tanpa reaksi menhadapinya (kebetulan orang yang galak tersebut juga seorang nenek yang sudah bau tanah juga). Dengan entengnya pula ia menjawabnya. Katanya, apa untungnya menanggapi nenek itu. Ia juga beranggapan dan tahu bahwa semua orang sudah tahu dengan semua prilakunya. Sehingga ia sangat yakin bahwa ungkapan dan makian yang keluar dari mulutnya, tak akan memberi pengaruh apa-apa, sebab telah diketahui banyak orang bahwa ucapannya sama sekali tidak punya arti apa-apa. Karena memang begitulah adanya.

 

Semua orang pasti akan memakluminya atas perbuatannya yang memang tak bermakna apa-apa. Semua orang tidak akan menganggapinya. Malah banyak orang akan mentertawakan perbuatan-perbuatannya. Ulah yang telah dianggap banyak orang sebagai sebuah lelucon. Sebagai lelucon karena memang begitulah perangainya, yang tidak menempatkan sesuatu pada tempatnya. Maka wajarlah menempatkan sesuatu yang tidak pada tempatnya, justru menjadi sebuah lelucon yang tak disengaja.

 

Makanya jangan mau membuat lelucon yang hanya karena menanggapi sesuatu yang tidak pada tempatnya. Tidak pada tempanya, karena semua orang sudah tahu bahwa ulahnya tak akan berarti apa-apa. Jadi, menanggapi sesuatu yang tidak berarti apa-apa, malah akan menambah lucu lelucon yang ada. Untuk itu, berusaha menempatkan suatu perbuatan dan sikap itu pada tempatnya. Dan berusahalah tidak menanggapi sesuatu yang jelas-jelas tak mempunyai arti apa-apa. Supaya kita tidak terjebak pada lelucon yang telah diperankan seseorang. Karena kalau tidak, kita justru akan menambah lucu lelucon tersbut.

 

Selanjutanya ia juga menceritakan, suatu ketika ada orang yang menanggapi ulahnya. Lalu apa yang terjadi pada orang tersebut, yang telah menanggapinya. Tentunya ia akan naik darahnya, mukanya menjadi merah menyala karena telah terpancing dengan ulahnya dan telah menanggapinya dengan cara yang sama. Tentu saja bagi nenek itu telah menjadi kerjaan rutinnya. Sehingga rutinitas bisa dikatakan tak akan membawa efek apa-apa. Namun bagaimana dengan orang yang menanggapinya. Sesuatu menjadi tak terduga, karena ia malah ditertawakan tetangga-tetangganya. Karena tiada guna menanggapi orang yang memang itulah satu-satunya pekerjaannya.

 

Betapa malu dan kagetnya orang tersebut. Padahal darah sudah terlanjur naik tak terkira, mukanya sudah terlanjur merah menyala, dan amarahnya sudah terlanjur membanjiri dirinya. Tentu saja bagi orang tersebut membuat efek yang tidak bisa dikatakan ringan adanya, serta butuh waktu untuk menurunkan keadaaannya. Efek yang bisa terbawa-bawa sampai di rumahnya. Tentu saja ia bisa membawa hawa panas itu ke keluarganya. Jadilah keluraganya harus menerima hawa panas itu akibatnya. Keluarga yang sebenarnya tak tahu apa-apa. Tapi kenapa harus menanggung semuanya, hanya karena ulah nenek-nenek yang memang sudah kerjaannnya. Lalu siapa yang bodoh mau terjebak dengan ulahnya, yang sama sekali tiada bermakna. Sudah begitu, e...masih ditertawakan tetangga-tetangganya. Sudah tertekan karena amarah, malah ditambahi, telah dianggap menambah lucu sebuah lelucon, yang tak disenagajanya. Kasihan benar dia.

 

Belum lagi kalau darahnya masih sulit untuk diredakan. Berapa kerugian yang akan dideritanya, akibat suasana hati yang masih tertekan karena emosi yang tak tertahankan. Suasana hati yang tak akan mendukungnya melakukan semua aktifitas pekerjaan yang lainnya. Semua pekerjaan menjadi sangat berat dilakukan karena konsentrasi yang buyar akibatnya. Berapa kerugian yang harus ditanggungnya, hanya menanggapi sesutu yang tiada guna.

 

Belum lagi kalau ternyata tekanan jiwa yang kian terasa itu sudah mempengaruhi fisiknya, karena menyebakan darah tingginya menjadi kambuh karenanya. Dengan terpaksa orang itu harus mengeluarkan biaya hanya untuk membeli obat dan memeriksakan keadaannya. Keadaan yang dibuatnya hanya karena menanggapi sesuatu yang tiada berguna. Lalu siapa lagi orang yang bodoh mau menanggapi sesuatu yang tidak pada tempatnya. Lalu siapa lagi orang mau-maunya menanggung kerugian yang tak kecil akibatnya, hanya karena menanggapi sesuatu yang tiada guna.

 

Mas Lanto yang merasa tertekan jiwanya,

Kini saatnya anda untuk bisa mengendalikan diri dari ulahnya (fitnah, menjelekkan dan segala tindakan yang membuat anda marah karenanya). Karena percayalah, bahwa itu semua tidak akan membawa pengaruh apa-apa.

 

Lho kok bisa ?

Lho bukankah anda yang justru harus menerima resiko dari perbuatannya. Sehingga anda merasa tertekan karena ulahnya. Ulah yang sama sekali tidak berarti apa-apa. Kami yakin orang tua anda tahu itu semuanya. Namun mereka terpaksa sedikit membelanya. Ini sangat wajar, karena posisi ibunda anda sebagai anak dari nenek anda. Walaupun beliau tahu siapa sebenarnya nenek anda dan apa yang telah terjadi pada anak-anaknya, mengenai hubungannya dengannya.

 

Ibunda anda tentu saja tak mampu berbuat apa-apa kecuali hanya berusaha untuk memahamkan kepada anda tentang dia. Sebab kalau ibu anda mau berkata sejujur-jujurnya, pasti tak ingin terjadi apa-apa dengan anaknya (misalnya menjadi tertekan karenanya). Namun beliau tak mampu berbuat apa-apa dan tak ada yang dapat dilakukannya, kecuali hanya bisa menerima apa adanya walaupun harus dengan terpaksa. Sebab nenek anda adalah ibunya.

 

Percayalah mas Lanto, tak ada gunanya menanggapinya karena memang tidak berarti apa-apa. Oleh karena itu, tak ada gunanya memaknai fitnah, menjelek-jelekan dan semua perbuatan yang seakan akan memberi gambaran buruk terhadap dir anda. Sebab tidak hanya orang tua anda yang tahu siapakah sebenarnya dia. Namun juga tetangga dan kerabat anda pasti banyak yang tahu siapakah sebenarnya dia. Sedemikian sehingga mereka tidak akan memaknai kata-katanya dan perbuatannya dengan makna yang sebenarnya. Karena mereka tahu siapakah nenek anda sebenarnya.

 

Mungkin saja bisa terjadi, orang bisa menjadi salah paham tentang anda akibat omongannya. Namun kesalahpahaman itu hanya berlaku sementara. Karena suatu ketika orang lain akan menjelaskannya, apa yang terjadi sebenarnya. Jadi untuk apa ditanggapi, kalau semua orang tahu siapakah sebenarnya dia itu. Lalu kenapa anda bersusah payah harus menerima resiko yang anda rasakan sendiri akibat perbuatannya. Perbuatan yang semua orang tahu, tidak akan memberi arti dan pengaruh apa-apa.

Selengkapnya ..... ?

Ingat jangan sampai ketinggalan satu topikpun, karena disana banyak rahasia hidup yang telah banyak dilupakan oleh sebagian besar orang. Dijamin ! Kalau anda bisa mengambil hikmah dan pelajaran dari semua topik yang ada, Niscaya serasa jiwa anda baru bangun dari tidur yang terlalu lama !. Terimakasih !