|
Cinta banyak digambarkan orang sebagai kekuatan untuk memiliki sang pujaan hati. Pujaan hati yang telah dianggapnya sebagai bintang-bintang yang gemerlapan. Bintang-bintang yang penuh kesejukkan dan ketentraman. Bintang-bintang yang seakan menjanjikan kebahagian yang harus dicarinya, direngkuhnya dan dimilikinya. Seakan, seandainya kita bisa bersama sang bintang, maka bertaburlah bunga-bunga disekelilingnya. Hidup bagai melayang dan terbang. Seakan hidup akan terus melayang dan menjanjikan.
Cinta seakan membuat kita tak akan pernah mampu untuk tidak menemuinya, bertegur sapa, bersendau gurau, atau bercengkerama dengannya. Siapa yang tak berbunga-bunga ketika cinta sedang memabukkan kita. Siapa yang akan mampu hidup tanpa cinta. Cinta adalah hidup dan hidup adalah cinta. Cinta seakan kekuatan hidup insan manusia untuk meniti hidupnya. Cinta bagai buih-buih yang dapat menciptakan semangat dan inspirasi. Dengan cinta setiap insan manusia seakan mampu berdiri dengan kokohnya. Bagi yang sedang dimabuk cinta, maka cinta adalah segala-galanya. Dan tanpa cinta seakan hidup ini kering dan gersang di hatinya.
Tetapi akankah perjalanan hidup selalu dipenuhi dengan cinta dan bertaburan bunga-bunga. Maaf, ini tidak bisa dan tak mungkin. Sebab kalau kita mau dan siap menjalani hidup, maka kita harus melalui dua hal yang harus ditapakinya. Dua hal yang dilalui silih berganti. Silih berganti supaya kita bisa memahami sebuah makna dan arti. Makna dan arti yang memahami akan hidup yang pasti silih berganti. Tidak selamanya hidup kita harus bertaburan bunga-bunga. Tidak mungkin hidup kita selalu melayang penuh kebahagiaan dan senyuman. Adakalanya kita harus kecewa dan serasa putus asa. Adakalanya kita tersenyum kecut dan meratapinya. Dan adakalanya hidup ini membosankan dan penuh cobaan.
Oleh karena itu kalau kita mau hidup, maka kita harus siap dan mampu menjalani semuanya. Menjalani apa-adanya, supaya semua menjadi bermakna. Jangan sampai tergila-gila dan lupa, ketika kita baru bertebaran bunga-bunga. Sebab itu pasti hanya untuk sementara dan tidak bisa seterusnya. Supaya kita masih bisa menjalani hidup yang lainnya, ketika ternyata bunga-bunga itu sedang layu dan mati. Sebab kalau kita mampu menjalaninya maka kita bisa merasakan betapa bunga-bunga itu serasa harum dan semerbak baunya. Bagaimana mungkin kita bisa merasakan harumnya bunga tanpa kita pernah merasakan bahu busuk yang menyesakkan dada. Bagaimana mungkin kita bisa merasakan cinta kalau kita belum pernah merasakan hidup yang merana. Bagaimana mungkin kita bisa merasakan rasa kasih kalau kita belum pernah merasa terluka. Maka hiduplah sewajarnya supaya kita tahu akan makna. Dan hidup apa-adanya saja supaya kita siap menjalani semuanya. Sebab kalau tidak, bersiap-siaplah untuk jatuh karenanya.
Tidak ada salahnya kita selalu mencoba belajar untuk konsekuen dan bertanggungjawab atas irama hidup yang selalu berubah. Agar kita tetap menerima apa adanya ketika diberi anugrah akan cinta, begitu juga kita harus tegar untuk memahami dan berusaha belajar memahami ketika hati sedang terluka. Nikmati cinta yang secukupnya saja jangan sampai tergila-gila karenanya. Sebab waktu jua yang akan mengajak kita merasakan sebuah arti dan makna, jika hati sedang berduka. Sehingga kita tetap bisa tabah dan kokoh, ketika kepedihan sedang datang mendera. Sehingga seakan kita tetap bisa menikmati teriknya siang untuk bekerja dan berakatifitas, dan sejuknya malam untuk bersendau-gurau dan melepas dahaga kepenatan tubuh dan jiwa. Syukur-syukur tidak hanya cinta dan duka, tidak hanya bunga dan bangkai, tidak hanya suka dan nestapa, namun semua, semuanya ! Apa saja ! Dalam keadaan apapun juga ! Supaya hidup lebih bermakna dan penuh jiwa ! Ingat jangan sampai ketinggalan satu topikpun, karena disana banyak rahasia hidup yang telah banyak dilupakan oleh sebagian besar orang. Dijamin ! Kalau anda bisa mengambil hikmah dan pelajaran dari semua topik yang ada, Niscaya serasa jiwa anda baru bangun dari tidur yang terlalu lama !. Terimakasih !
|