T.  APRIL
TOPIK  LALU
T-2005

 ***   Dapatkan Mutiara-Mutiara Hidup melalui SMS GRATIS ! Selama-lamanya !!!   ***

***   Waspadai Sumber Keonaran & Kericuhan di Lingkungan Anda !  ***

***  Topik Aktual Selebritis Lainnya !!!    ***

 

Rumah Tangga Mereka Dihantui oleh Keretakan !

 Sebuah potret kehidupan rumah tangga para selebritis.

Oleh : R.M. Sedan Mangku Lelakon *)

 

Inilah masalah yang terus dan terus akan terjadi dikalangan rumah tangga para selebritis kita. Perceraian, percekcokkan, pisah ranjang sampai pada perselingkuhan seakan terus akan selalu menjadi berita besar di media cetak maupun elektronik, pada saat-saat ini ataupun yang akan datang. Ini bisa dimaklumi, karena mereka memang telah menjadi pusat perhatian publik. Walaupun masalah rumah tangga di kalangan mereka lebih banyak berpeluang muncul, namun sebenarnya, masalah tersebut adalah masalah umum yang memang banyak terjadi pada masyarakat bangsa ini.

Mereka seakan telah menjadi barometer tentang sebuah kultur yang akan terjadi pada masyarakat bangsa ini. Sehingga jadilah masalah-masalah rumah tangga mereka akan selalu menjadi pusat perhatian dan polimik, yang seakan dibiarkan untuk menjadi sebuah wacana tentang kultur bangsa mengenai masalah rumah tangga. Sebuah kultur yang selama ini berlaku dua dalil hukum yang sama-sama diakui oleh masyarakat kita. Dalil hukum yang dikeluarkan oleh pemerintah di bawah pengawasan Departemen Agama dan dalil hukum yang diakui syah menurut hukum agama ( Islam ).

Tampaknya ini saat yang tepat untuk menjelaskan kepada masyarakat, kenapa mereka selalu sering menghadapi masalah dalam rumah tangganya. Saat yang tepat untuk menjelaskan bahwa mereka sebenarnya tidaklah menginginkan itu semua (masalah rumah tangganya) terjadi kepada pada mereka. Sebenarnya merekapun juga sedih menghadapi itu semua, namun mereka juga tidak bisa berbuat apa-apa ketika masalah itu harus datang kepadanya.

Sehingga kurang bijaksanalah kalau masyarakat menilai bahwa mereka dengan mudahnya melakukan pernikahan dan perceraian. Sebab mereka memang memiliki kehidupan tersendiri sebagaimana para selebritis lainnya. Kehidupan inilah yang menjadikan mereka banyak mengalami goncangan dalam rumah tangganya itu. Bukan karena keglamauran mereka atau juga bukan akibat dari bagian kehidupan entertainment mereka. Akan tetapi hanyalah akibat lemahnya mereka memahami arti sebuah perkawinan,  lemahnya memahami arti tentang keberadaan mereka sebagai suami dan istri, serta lemahnya memahami arti tentang posisi mereka sebagai laki-laki dan wanita, yang ternyata semuanya sangat pelik dan rumit.

Ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan mereka, seandainya mereka adalah masyarakat biasa (bukan sebagai artis atau kaum selebritis). Tentu saja masalah rumah tangganya tersebut akan dianggap lumrah masalahnya. Namun karena mereka sudah menjadi pusat perhatian masyarakat, maka masalahnya menjadi banyak sorotan dan pergunjingan.

Maka sudah saatnya kita memahami persoalan mereka, sebagai persoalan hidup mereka saja. Persoalan mereka sebagai persoalan pemahaman tentang laki-laki dan wanita pada umumnya, atau persoalan mereka sebagai persoalan pemaham tentang kedudukan suami dan istri pada umumnya. Juga persoalan mereka sebagai persoalan pemahaman mereka terhadap sebuah perkawinan. Sebagaimana persoalan yang dihadapi masyarakat kita tentang itu semua. Maka sudah sepantasnya kalau persoalan itu sebagai persoalan umum dan wajar-wajar saja.

 

Hidup mereka bagai sebuah bandul ?

Kapasitas hidup ini dapat di ukur bagai sebuah timbangan, yang hanya ada tiga pilihan untuk dilakukan, yaitu; seimbang, berat ke kanan, dan berat ke kiri. Hidup bagai timbangan inilah yang banyak tidak disadari banyak orang. Mereka tidak menyadari bahwa mengejar bobot yang lain bisa mengakibatakan berkurangnya sisi-sisi lain dari sebuah kehidupan mreka. Keadaan ini membuat mereka kesulitan meraih semuanya. Waktu dan fikiran habis untuk mengejar karier, ketenaran, kekayaan, bahkan jabatan. Mereka menjadi tampak hangar-bingar penuh keceriaan dengan ketenaran, kekayaan, sampai jabatan. Segala tampak penuh kegermelapan. Tapi sayang, bobot mereka tidak seimbang, menjadikan kehidupan yang lain, dalam hidup mereka, penuh duri dan lubang. Membuat mereka terseok-seok menghadapi kehidupan lainnya, sungguh kasihan juga mereka. Mereka sebenarnya tidak menginginkannya, tapi keadaan sudah menjadi bubur, hingga mereka terpaksa melakukan sesuatu yang tak diinginkannya, yaitu ‘perceraian’. Dan merekapun harus menghadapi masalah lainya, yaitu ; kekerasan rumah tangga,  pisah ranjang sampai perslingkuhan.

Sebuah perkawinan ternyata tidaklah cukup dibekali dengan berlebihannya materi, jabatan, karier dan ketenaran. Bahkan bekal yang bersifat materi itu, ternyata hanya berpengaruh cukup kecil dalam sebuah perkawinan, apalagi jika keluarga tersebut dapat dengan sukarela menjalani hidup yang sederhana.

Perkawinan pada dasarnya merupakan sebuah jalan untuk mencapai kebahagian dan kenyamanan hidup. Perkawinan juga merupakan kebutuhan dasar yang tak terelakan dari dua insan manusia, sebagai ciptaan Tuhan. Sebuah perkawinan, disadari atau tidak , merupakan panggilan jiwa dua insan manusia menjadi tak terelakan. Di sanalah adanya perhatian sejati, ketika semua orang tidak memperhatikan. Di sanalah kejujuran sejati, ketika kejujuran sulit ditemui. Di sanalah tempat orang kembali, mencari, menyejukkan hati, kasih sayang sejati, anak-anak, istri/suami, segala-galanya dapat ditemui. Inilah yang hakiki dan perlu untuk dicari dari harapan yang ada dalam sebuah perkawianan yang sejati.

Maka dari itu, sebuah perkawinan ternyata harus dibekali kesiapan jiwa untuk itu. Kesiapan jiwa untuk membangun sebuah ‘ penyatuan dua insan’ yang berbeda jenis, karakter, perwatakan dan keinginan. Di sanalah manusia belajar untuk memahami istri/suami, dengan segala kelebihan dan kekurangan, pengorbanan akan egoisme diri, meninggalkan perasaan saling menangnya sendiri (karena mereka bukan sendiri lagi). Disanalah manusia belajar memenuhi kewajiban dan tanggung jawab. Kemudian di sanalah terbangun kedewasaan diri, sesuai proses alami, sebelum akhirnya harus mati meninggalkan bumi.

Kesiapan jiwa seperti inilah yang ‘luput’ dari bayangan kebanyakan orang. Mereka sedang terjebak pada ‘cinta yang sedang memabukkannya’. Mereka keliru membayangkan bahwa cinta kasih yang sedang menyelimutinya, ketika sedang pacaran atau diawal perkawinannya, akan terus menerus seperti itu. Mereka telah terperangkap pada ‘pemikiran semu’ bahwa hidup bagai jalan yang selalu mulus, tidak akan ada tanjakan, jurang, dan halangan. Sehingga ketika hujan deras sedang mengguyur mereka, mereka terkejut namun tetap tidak berhati-hati dan intropeksi diri. Mereka terus melaju pesat, walau kelokkan licin di pinggir jurang dihadapannya. Peringatan petunjuk jalan tak diindahkannya, hingga mereka baru sadar ketika sudah terpeleset dan masuk jurang. Akhirnya nasi sudah menjadi bubur ! mereka tak dapat mengembalikannya.

Akhirnya mereka sudah cukup merasakan pengalaman pahitnya, dan mencoba belajar untuk itu. Mereka mencoba membangun sebuah ‘kendaraan perkawinan baru’ yang tak mungkin terperosok ke jurang lagi. Namun sayang, mereka menganggap bahwa jalan perkawinannya hanya akan melewati kelokan yang licin saja, tanpa menyadarinya bahwa jalan menuju kesana ternyata penuh halangan dan ujian, yang banyak jenis dan macamnya. Di sisi lain juga tak mau meluangkan sedikit waktunya untuk belajar banyak mengenai lika-liku sebuah jalan perkawinan. Hingga tak sedikit dari mereka terus menerus menghadapi musibah dalam perkawinannya, walaupun tak menginginkannya. Banyak hal yang harus mereka ketahui. Akan tetapi, mereka terlalu sibuk, takut menggangu kariernya, atau menyepelekan hal-hal yang tampaknya sepele, namun berujung pada masalah yang rumit, seakan-akan tak terpecahkan. Bagai pepatah jawa yang artinya “ mencari sesuatu yang kecil tapi malah kehilangan sesuatu yang besar”

Perceraian yang terjadi pada orang-orang yang kita kagumi, bukan sesuatu yang mudah dan gampang buat mereka. Mereka sebenarnya sangat tidak menginginkannya, dan sedih menghadapi situasi ini, Belum mereka telah menjadi bulan-bulanan media massa, yang mencari keuntungan di atas kepedihan mereka. Banyak waktu dan biaya yang mereka gunakan untuk menyelesaikan masalah tersebut. Masalah ini tidak saja akan membuat pusing yang bersangkutan saja, tapi juga anak dan kelurga besar mereka, yang sebenarnya juga tak menginginkan hal itu terjadi.

Akhirnya, kembali pada mereka semua. Untuk menyadari adanya kekurangan pada diri mereka. Ada yang tak seimbang pada bobot yang sedang diraihnya. Sebenarnya kalau mereka mau, sebanarnya kedua-duanya (keseimbangan itu) dapat di raihnya selaras dengan kariernya. Namun memang ada pengurangan di sana-sini yang mungkin tak sama dengan ketika mereka masih sendiri. Sekali lagi, kembali kepada diri mereka untuk memilihnya kedua-duanya atau salah satunya, tentunya dengan resiko yang akan muncul akibat pilihannya. Kami berharap dan berdoa kepada mereka agar bisa menyadari bahwa telah ada yang kurang pada diri mereka.

 

Adanya perbedaan Sifat wanita dan lelaki, merupakan Sekenario Kesimbangan dan Harmoni !

Inilah realitas yang ada pada kebanyakan wanita, agar supaya bisa dipahami dan dimengerti sebagai keadaan yang mesti akan terjadi pada mereka. Sebuah realitas di mana lelaki mampu mengambil peran atas kelebihan dan kelemahan yang ada pada wanita. Dan memang itulah sekenarionya dari Yang Kuasa. Supaya di sana harus ada komunikasi dan harmoni. Supaya di sana ada suatu keadaan yang bisa saling memahami dan saling mengerti. Supaya di sana ada kebutuhan dan harapan yang saling membagi dan memberi. Supaya di sana ada keadaan yang saling membutuhkan dan memberi arti.

Apalah arti seorang laki-laki yang perkasa kalau tidak ada seorang wanita yang lembut dan halus di hati. Apalah arti seorang lelaki yang kuat dan digdaya kalau tidak ada gadis dan wanita yang lemah-lembut kepribadiannya. Begitulah adanya karena itulah sekenario-Nya. Sebab di sanalah ada kelembutan dan kelemahan, maka di sanalah juga pasti akan ada keperkasaan dan kekuatan.

Inilah kehebatan Yang maha Bijaksana, yang telah menciptakannya, agar supaya disana ada keseimbangan yang nyata. Agar di sana ada harmoni yang membutuh kan komunikasi. Agar di sana ada dinamika akan adanya kelebihan dan kekurangan yang saling menutupi dan memberi. Agar disana muncul sebuah sinergi. Sebuah sinergi yang akan memberi makna dan arti terhadap kelangsungan hidup manusia selanjutnya.

Sebuah sinergi yang menetapkan dan mengharuskan wanita di sisi lain mempunyai kelebihan dan kekurangan. Sebuah sinergi dari sebuah pertemuan dengan lelaki yang juga punya kelebihan dan kekurangan yang berlainan tempat dan keadaan. Sehingga kelemahan wanita adalah sebenarnya merupakan kelebihan lelaki. Di lain pihak kelebihan wanita sebenarnya juga telah menjadi kelemahan pada lelaki. Itulah sebuah sinergi yang telah dikehendaki-Nya. Dikehendaki-Nya supaya ada keseimbangan dan dinamika. Keseimbangan dan dinamika agar supaya manusia tetap bisa eksis dan penuh makna ! Terimakasih Yang Kuasa yang telah menciptakan kami semua !

Kemudian, perwatakan, prilaku, pandangan, sifat dan penilaian seorang wanita yang sangat sederhana dan sentimentil ini bukanlah sebuah proses diri yang memang diinginkannya. Namun sebuah proses, dari sebuah sekenario untuk supaya mereka bisa selalu menempatkan dirinya sedemikian rupa sebagai wanita. Sebuah sekenario akan sifat-sifat dasar wanita yang harus ada padanya. Sebuah sekenario agar supaya dalam kehidupan ini selalu ada keseimbangan dari padanya.

Inilah kelebihan sekaligus kekurangan yang ada padi diri wanita. Segala kelebihan dan kekurangan yang berbalikan dengan sifat-sifat dasar lelaki pada umumnya. Maka wajarlah akan ada banyak pertentangan dalam proses penyatuan jiwa (sosialisasi) antara lelaki dan wanita di manapun berada. Sauatu keadaan yang dapat dipastikan sering memunculkan kesalahpahaman ( pertentangan akibat berbeda sudut pandang dan penilaian saja ). Semua akan punya dasar pemikiran dan alasan akan sudut pandang dan penilaiannya. Kedua-duanya bisa jadi benar dalam argumentasinya, tentu saja masing masing akan selalu mengaku benar. Inilah sebuah realitas yang dapat dipastikan selalu ada sepanjang masa. Begitulah adanya karena itulah sebenarnya sekenario-Nya.

Sebuah sekenario supaya adanya keseimbangan dalam hidup manusia. Suatu keseimbangan yang membutuhkan harmoni di antara kedua-duanya. Sebuah harmoni di mana kedua-duanya tidak harus menjadi sama dalam prilaku, sifat dan nalurinya. Sebuah keseimbangan harmoni yang tetap menepatkan wanita sebagaiman wanita umunya, dan sebuah keseimbangan harmoni yang tetap menempatkan lelaki sebagaimana lelaki pada umumnya.

Sebuah harmoni yang menuntut adanya komunikasi yang bijak dan penuh dengan pemahaman akan keadaannya. Bukan sebagai sebuah ketidak-harmonian akibat pemaksaan dan kekerasan. Itulah sekenario besar yang terjandung didalamnya. Sebuah sekenario yang menuntut adanya komunikasi kedua belah pihak dengan penuh penghargaan, pemahaman dan penuh dengan kebijaksanaan. Sebuah sekenario yang memang menjadikan itu semua menjadi suatu keseimbangan dalam hidup manusia.

 

Wanita cenderung mengunakan Logika sederhana dan Simpel ?

Inilah wanita, selalu merasakan dan menikmati apa saja yang sudah sewajarnya untuk dinikmati. Mereka merasa menikmati sesuatu yang memang menurutnya pantas untuk dinikmati. Menikmati hidup yang seakan berjalan begitu saja. Menikmatinya dengan penuh rasa, sesuai perasaan yang memang sedang mendasarinya. Menikmati dan mengungkapkan apa saja sesuai yang ada dalam hati dan perasaannya.

Menikmati dan mengungkapkan apa saja dengan perasaan yang sedang menyelimutinya. Tidak mau tahu apakah mereka sedang tertekan, sedih, gembira ataupun sedang berlapang dada. Tak mau tahu dan mungkin tak menyadarinya, bahwa perasaan yang sedang menyelimutinya bisa-bisa menjadi malapetaka. Ataupun tak menyadarinya, jika ungkapan-ungkapan dan prilakunya bisa-bisa menimbulkan bahaya ataupun bencana yang akan menimpanya.

Kebanyakan dari mereka kurang mampu memperhitungkan atau bahkan tak mau tahu dengan segala tetek mbengek sebuah perhitungan yang mungkin akan terjadi padanya. Ia ungkapkan apa saja sesuai pikiran dan penilaian saat itu juga. Sebuah penilaian dan ungkapan yang dianggapnya menjadi logika kebenarannya. Logika kebenaran yang ia nilai saat itu juga. Mereka tak mau tahu tentang logika yang menyeluruh dan terlalu banyak perhitungannya.

Merekalah mahkluk yang simpel dan tidak suka bertele-tele. Mahkluk yang menggunakan logika yang sederhana-sederhana saja. Sebuah logika yang sering digunakan dalam ilmu matematika. Sebuah logika bahwa 1+1 adalah 2. Padahal dalam ilmu-ilmu sosial penjumlahan itu jelas-jelas bisa menjadi berbeda. Apalagi menyangkut prilaku, perwatakan ataupun kemungkinan-kemungkinan sosial, tidaklah akan selalu menghasilkan nilai angka dua. Inilah logika yang digunakan mereka, sebuah logika sederhana yang tak mau tahu adanya kemungkinan-kemungkinan yang berbeda.

Demikian serhingga, pemikiran, pandangan dan penilaian yang simpel dan sederhana itu menjadikannya tidak mengetahui kemungkinan-kemungkinan lain yang bisa terjadi pada dirinya atau keluarganya. Itulah adanya mereka yang umumnya mengunakan logika yang mungkin hanya berlaku saat itu juga. Sebuah logika yang mungkin hanya bisa berlaku beberapa saat saja. Maka dari itu, efek-efek dari pandangan dan penilaiannya, tidak disadarinya bisa merugikan dirinya atau keluarganya. Namun anehnya, mereka (umumnya wanita) tidak mengetahui atau tidak menyadari atau malah mungkin juga tidak memperhatikan kemungkinan-kemungkinan yang bisa merugikan keluarganya atau dirinya sendiri.

Itulah sebabnya wanita sering dianggap selalu berbuat kesalahan demi kesalahan oleh kaum lelaki. Namun anehnya kesalahan dan kesalahan itu tidak disadarinya. Atau malah bisa jadi terjadi atas penilaian dan pandangan yang sudah dianggapnya benar adanya. Sehingga inilah yang sering menjadikan kaum lelaki kelimpungan dan salah paham. Salah paham karena tidak mengerti siapakah yang sedang dihadapinya. Salah paham oleh sebab mereka di anggap sama dengan dirinya. Maka menjadi sangat wajar jika semua menjadi pertentangan diantara mereka. Pertentangan-pertentangan akibat kesalahpahaman dan ketidaktahuan saja.

Inilah yang sering menjadi pemicu panasnya masalah-masalah keluarga mereka. Semakin panasnya masalah-masalah keluarga hanya karena masing-masing menganggap dirinya sama. Mereka lupa bahwa ternyata mereka merupakan mhkluk yang berbeda. Berbeda sifat dan nalurinya. Sayang mereka tidak segera menyadarinya, malah mereka masih bersikukuh pada kesalahpahaman yang nyata. Lalu siapakah orang bodoh yang selalu menganggap dirinya selalu sama dengan mereka ? Lalu siapakah orang bodoh yang masih bersikukuh mempertahankan kesalahpahaman yang terjadi diantara mereka ? Kesalahpahaman hanya tidak mengerti kalau ternyata mereka berbeda sifat dan prilakunya ? Lalu siapakah orang bodoh yang masih belum menyadari kesalahpahaman yang telah terjadi ?

 

Laki-laki dan Wanita memiliki Sifat yang berbeda dalam berumah tangga.

Keluarga adalah komunitas terkecil dalam sistem kemasyarakatan. Di sanalah perwatakan dan kepribadian pertama kali terbentuk. Terbentuk dari dua kultur yang melakukan kompromi. Kompromi akan nilai-nilai yang dianut si istri dan si suami. Sebuah kompromi dari pergulatan nilai yang telah berlangsung sekian lama, yang penuh gesekan-gesekan konflik perbedaan dan kesalahpahaman. Tak sedikit keluarga yang gagal melakukan kompromi ketika berusaha membangun bahtera berumah tangga. Tak sedikit pula rumahtangganya berakhir dengan perceraian. Dan yang lebih memprihatinkan tak sedikit diantaranya telah terjadi kekerasan dalam rumah tangga, pemaksaan kehendak dengan ancaman, penganiayaan, pisah ranjang sampai perselingkuhan.

Keluarga adalah sebuah sistem yang di dalamnya menganut nilai-nilai yang dipahaminya untuk menyikapi segala aktifitas ke dalam maupun keluar. Untuk itu pembentukkan rumah tangga baru merupakan pembentukan sistem nilai yang baru pula. Sistem nilai baru yang akan dipahami oleh dua insan manusia yang baru saja meniti kehidupan berumah tangga. Tentu saja sistem nilai yang baru ini akan terbentuk dari dua kepribadian dan perwatakan dua insan (suami dan istri) tersebut.

Sistem nilai yang ada dalam kepribadian dan perwatakan masing-masing, sebenarnya sudah ada sejak mereka masih bujang dan sendiri. Suatu sistem nilai yang terbangun pada kultur keluarga yang terdahulu ( ketika masih ikut orang tua atau induk semang). Sistem nilai pada sifat diri (kepribadian dan perwatakan) yang dianut sejak awal inilah yang akan menjadi 'sinergi'. Sinergi dalam melakukan penyesuain-penyesuain dan kompromi. Konflik, pertentangan, kesalahpahaman dan benturan sifat diri dari dua kultur keluarga terdahulu 'harus' terjadi dalam meniti jalan hidup berumah tangga. Konflik, pertentangan, kesalahpahaman dan benturan sifat diri inilah yang akan menentukan masa depan kehidupan rumah tangganya. Tak jarang perbedaan-perbedaan dalam memahami suatu masalah telah menjadi pemicu terjadinya konflik (percekcokkan) berkepanjangan di dalam berumah tangga tersebut.

Sikap tertutup, egoisme, dan sulit membangun komunikasi di antara keduanya akan menambah daftar kerumitan dalam menegakkan bahtera rumah tangga. Belum lagi 'sifat dasar' ( menurut tinjauan psikologi) kedua insan yang berlainan jenis ini mempunya sifat dasar yang terkesan kontras (berlawanan) dalam menyikapi banyak hal dalam rumah tangganya. Wanita sering terbawa suasana hatinya dalam menyikapi semua masalah dalam kehidupannya. Wanita cenderung menggunakan perasaannya dalam menjalankan semua aktifitas kesehari-hariannya. Oleh karena itu wanita sering emosional dan terkesan tergesa-gesa dalam menyikapi masalahnya. Sehingga mereka mudah sekali kawatir dan risau menhadapi hal-hal yang sebenarnya sepele.

Ini sangat kontras dengan laki-laki yang terkesan santai menjalani kehidupan sehari-hari. Makanya tak jarang mereka menganggap kecil masalah yang sebenarnya merupakan masalah besar. Kesan yang lamban pada laki-laki disebabkan terlalu banyaknya perhitungan yang dilakukannya dalam menyikapi hidup. Perhitungan-perhitungan inilah yang akan menimbang untung ruginya jika ia memutuskan untuk melakukannya. Oleh karena itu laki-laki pada umumnya memperhitungkan jauh kedepan apa-apa yang akan dilakukannya, sikap inilah yang memberi kesan lamban pada laki-laki. Dan masih banyak lagi sifat-sifat kontras pada diri laki-laki dan perempuan. Namun sebenarnya masalah ini menjadi mudah terselesaikan jika kedua belah pihak mampu menjalin komunikasi, dan menjauhkan sikap-sikap egoisme diri.

 

Wanita dan Perkawinan ?

Keluarga yang penuh duri dan masalah disebabkan oleh banyak faktor. Faktor yang banyak terjadi adalah kurangnya istri/suami memahami apa dan mengapa hakikat perkawinan  itu, atau mertua atau orang tua yang ikut campur dalam urusan rumah tangga anak, mertua atau orang tua yang kurang atau tidak merestui perkawinan anak yang telah membuat masalah tersendiri dalam kehidupan rumah tangga anak, dan terakhir yang juga sering terjadi, adalah faktor mereka sendiri yang mungkin masih belum banyak mengetahui tentang hakikat apa kita membangun perkawinan itu ?

Dari keempat faktor tersebut, dari banyak kasus, kapasitas pemahaman (wawasan)  istri tentang sebuah perkawinan sering menjadi pencetus utama terjadinya duri dalam rumah tangga. Kebanyakkan seorang istri kurang bisa membaca situasi yang sangat mungkin membahanyakan rumah tangganya. Mereka sering menggunakan emosi daripada nurani ketika menghadapi pernik-pernik masalah rumah tangganya. Kurang bisa memahami peran dan kewajiban seorang istri terhadap suaminya. Bermain api  dengan amarah emosi tanpa dilakukan dengan penuh kebijakkan, penuh pemahaman dan hati yang penuh kejernihan terhadap suami. Inilah pencetus bahaya-bahaya dalam rumah tangganya, yang sama sekali tidak ia sadari dan harapkan.

Wanita sering disebut sosok 'misteri' yang tak terduga emosinya. Emosi yang sering kurang masuk akal dan bisa dipahami. Wanita memang diciptakan oleh Tuhan untuk selalu menggunakan perasan daripada akal pikiran ketika menghadapi masalah dan kesehari-hariannya. Makanya jangan heran suatu ketika anda berkendaraan di jalan, di depan samping kanan anda seorang wanita tiba-tiba menghidupkan lampu tanda mau belok dan kemudian menelikung begitu saja, tanpa memperhitungkan jarak kendaran di belakangnya untuk diberi waktu melihat aba-aba. Atau kecerobohan-kecerobohan lain yang sering banyak terjadi pada wanita. Sebagai misal ketika mereka melihat bahaya akibat sesuatu yang bisa membahayakan keluarga dan dirinya. Mereka cenderung berteriak-teriak dalam menyikapi suatu keadaan yang membahayakan tersebut, dari pada segera bertindak untuk mencegah, mengatasi keadaan itu, menyelamatkan anak-anak, atau juga segera menyelamatkan dirinya sendiri.

Itulah sekelumit sosok wanita yang menjadikannya sering tak terduga yang memang telah di ciptakan Tuhan untuk mengandalkan perasaannya daripada akal pikirannya. Semua itu bukan tanpa arti seperti dinginnya air dan panasnya api, dinginnya air yang bisa menjadikan sebuah malapetaka banjir dan panasnya api yang mampu menciptakan kebakaran hebat melalap segala sesuatu yang ada tanpa kecuali. Akan tetapi bukan berarti musibah dan malapetaka itu tidak bisa dicegah atau dikendalikan. Bahkan kalau kita mampu, tapi memang seharusnya mampu, dinginnya air dan panasnya api bisa dikendalikan sedemikian rupa sehingga justru akan memberi manfaat dan sinergi (memberi semangat hidup).

 

Persoalan sex dalam rumah tangga.

Kebutuhan sex pasangan muda memang pada umumnya menghadapi kendala dalam masalah tentang kebutuhan sexnya. Kebutuhan sex seorang pria rata-rata meningkat antara umur 20 sampai 35 thn, dilain pihak kebutuhan sex seorang wanita baru mulai meningkat kira-kira antara 30 sampai 40 thn. Masalah inilah yang sering membuat ketidakselarasan hidup berumah tangga pada pasangan suami-istri. Namun ini sebenarnya dinamika dalam hidup berumahtangga. Sebuah dinamika yang diharapkan memuncul adanya saling komunikasi dan saling pengertian atas kedua belah pihak.

Kemudian, intensitas kebutuhan sex antara lelaki dan wamita ternyata berbeda intensitasnya. Lelaki cenderung mempunyai labido yang lebih sering daripada wanita. Masalah inilah yang juga sering menjadi pemicu semakin rumitnya masalah rumah-tangga mereka. Inilah yang sering dianggap masalah yang sepele atau tidak menjadikan sebuah perhatian yang penting. Sebab persoalan inilah yang menjadikan lelaki cendering melakukan kebohongan-kebohongan dan berbeda perangai ketika di depan atau di belakang istri mereka. Dalam banyak kasus, masalah inilah yang sering menjadikan lelaki atau suami bertindak gila melakukan perselingkuhan tersembunyi, melakukan pernikahan lagi dengan sembunyi-sembunyi, bahkan tega-teganya meninggalkan istri dengan cara menikah lagi tanpa ijin darinya.

Memang masalah kebutuhan sex pada tahun-tahun pertama memang tidak menemukan masalah. Hal ini disebabkan pasangan muda baru menikmati bulan-bulan yang kata orang penuh madu. Pada saat-saat seperti ini faktor ego yang bisa memunculkan kesalahpahaman masih terlupakan oleh keduabelah pihak. Dan ini biasanya akan berlangsung sampai menghadapi tahun kedua. Tahun-tahun  yang ada hanya kasih dan sayang yang baru terungkap pada diri keduanya.

Menginjak tahun ke dua biasanya mulailah muncul kesalahpahaman-kesalahpahaman yang dipicu oleh egoisme dan sifat-sifat dasar yang sudah ada sejak sebelumnya. Ego dan sifat dasar yang harus ada pada insan manusia yang berlainan jenis. Ego dan sifat yang berbeda sudut dan pandangnya. Ego dan sifat yang mudah memunculkan kesalahpahaman dalam berumahtangga. Inilah rahasia kehidupan insan manusia untuk dituntut membangun komunikasi dan saling mengerti akan perbedaan ini. Saling memberi sinergi atas perbedaan-perbedaan yang ada pada diri yang pasti. Yang pasti akan ada pengakuan tentang kelebihan dan kekurangan masing-masing. Sedemikian rupa sehingga perbedaan, kelebihan, dan kekurangan harus menjadi sebuah senergi. Sinergi untuk menciptakan kekuatan yang pasti. Kekuatan yang pasti dalam membangun rumah tangga yang dipenuhi inspirasi, motivasi, sinar keceriaan, kekuatan dan prestasi. Prestasi yang mendorong rumah tangga yang kokoh dan kuat penuh dengan semerbak harum wewangian bunga-bunga kebahagian, kejujuran dan kekangenan. Dan kemudian selanjutnya kekuatan rumah tangga itu akan sangat mendorong laju ekonomi yang terus berkembang dengan cepat karenannya.

Masalah sex bukanlah masalah yang sederhana dalam rumah tangga. Masalah sex ibarat detak jantung dalam badan dan jiwa. Terganggunya detak jantung bisa mengakibatkan terganggunya organ-organ lain dalam tubuh manusia. Ganguan detak jantung yang tidak segera diatasi akan membuat gerak tubuh tidak selaras dan tergangu semangat jiwanya. Detak jantung yang tidak segera diatasi akan bisa menimbulkan banyak komplikasi. Jadi jangan biarkan detak jantung ini melambat dan berhenti. Cobalah dan cobalah bangun komunikasi. Komunikasi yang sangat bijak, saling mengerti, mengisi dan saling mengasihi.

Komunikasi dalam menyepahamkan jalan hidup berumahtangga sebagai kebutuhan yang pasti . Menjalin komunikasi ternyata bukanlah persoalan yang mudah dalam menyatukan dua jiwa yang penuh impian dan ilusi. Impian dan ilusi yang memang sudah diharap-harapkan sejak lama oleh siapa saja sejak hidup sendiri, siapa saja yang ingin hidup penuh arti. Oleh karena itu, membawa impian orang kepada impiannya sendiri tak semudah membalikkan tangan. Apalagi dikuti dengan pemaksaan diri dan mau menangnya sendiri, maka komunikasi menjadi kurang berarti.

 

Kekurangpahaman wanita terhadap laki-laki dan sebaliknya, memicu masalah rumah tangga mereka !

Kekurangpahaman wanita terhadap kejiwaan (psikologi) seorang laki-laki adalah faktor utama pemicu masalah-masalah berat dalam hidup berumah tangga.. " Wah ini maaf lho pada para wanita, yang dalam tulisan ini cenderung kami anggap jadi biang keladi semua masalah rumah tangga. Namun jujur saja, ini saya lakukan dengan berat hati, dan harus kami uraikan, mengingat realitas yang ada dari banyak kasus yang terjadi, sekali lagi mohon maaf" Di hadapan banyak wanita, laki-laki dianggapnya sebagai mahkluk yang mau enaknya sendiri, sok kuasa dan mau menangnya sendiri. Mereka (laki-laki) dianggapnya sebagai mahkluk yang akan memberi perhatian dan kasih sayangnya jika 'ada maunya' saja. Dan ketika kemuannya dipenuhi kembalilah ia pada keadaan semula, kurang perhatian dan kasih sayang. Anggapan-anggapan dan kesalahpahaman inilah yang sering terjadi di banyak kehidupan rumah tangga. Sehingga mereka (wanita) merasa tidak dihargai dan cenderung dianggapnya sebagai orang ketiga. Anggapan dan kesalahpahaman inilah yang juga telah memberi peran penting menjadi duri dalam kehidupan rumah tangga.

Di lain pihak sebagian besar laki-laki menganggap wanita sering terlalu banyak menuntut, cerewet, mudah marah hanya dengan persoalan sepele saja, dan tak mau tahu kesulitan-kesulitan yang sedang dihadapinya. Laki-laki sering menganggap wanita akan berubah menjadi mahkluk yang manis, menyenangkan di hati, bermuka penuh keceriaan dan menentramkan di hati jika laki-laki sedang mendapat kemudahan-kenudahan secara ekonomis dan finansial. Atau mereka bermuka manis ketika kebutuhan ekonomis dan finansialnya terpenuhi atau mungkin malah berlebih-lebihan. Namun ketika laki-laki sedang menghadapi kesulitan ekonomi dan finansial maka mereka dianggapnya mudah berbalik perangainya, suka marah-marah dengan persoalan yang sepele, sering cerewet tentang suatu hal, suka membanding-bandingkan dengan orang lain yang sedang kelapangan ekonominya, dan cenderung meremehkan keberadaannya sebagai laki-laki. Kesalahpahaman dan anggapan ini juga menambah daftar panjang kerumitan hidup berumahtangga.

Di saat wanita sedang mentruasi suasana hatinya menjadi sangat peka dan mudah terpancing amarahnya.Mudah mengumbar amarah yang sering sama sekali tidak masuk akal. Mudah marah, yang sebenarnya muncul, karena disebabkan kondisi fisik yang tidak stabil. Mirip dengan seseorang yang sedang mengalami tekanan darah yang tinggi atau rendah, perasaannya menjadi sangat peka. Dalam keadaan begini seorang wanita hampir bisa dikatakan tidak mampu menempatkan suatu masalah pada tempatnya. Hal ini bisa dipahami mengingat kondisi fisiknya baru labil dan merasa tertekan karenanya. Dalam keadaan begini jika ditanggapi atau dipahami sebagai suatu masalah maka akan menjadi sangat tidak bijak dan tidak pada tempatnya. Keadaan ini tak ubahnya sebagai seorang anak kecil yang baru keruh suasana hatinya, entah karena suatu sebab ( misal tidak dibelikan mainan), maka hari-hari itu akan mudah sekali cengeng dan mengamuk tanpa sebab yang jelas.

Keadaan jiwa (wanita) seperti inilah yang sering kurang bisa dipahami dan diketahui banyak laki-laki pada umumnya. Maka dalam keadaan ini sering ditanggapi dengan serius oleh laki-laki. Sehingga bisa dipastikan keadaan bisa semakin meruncing, tidak jauh berbeda ketika kita menanggapi suasana hati anak-anak yang sedang keruh (dalam bahasa psikologi strees anak-anak). Kalau sudah begini siapa yang sebenarnya kurang kerjaan ?

Di lain pihak karena sifat dasarnya, laki-laki juga bisa mengalami masalah yang hampir sama dengan wanita yang sedang mengalami mentruasi. Yaitu ketika labido seorang laki-laki yang baru meninggi namun karena suatu hal tidak dapat tersalurkan, khususnya mereka yang sudah beristri. Keadaan ini justru lebih parah sebagaimana yang terjadi pada wanita. Sebab mereka akan menunjukkan sikap kerasnya sebagai sifat dasar laki-laki. Dalam keadaan ini bisa saja mereka tidak hanya marah-marah namun bisa juga mengamuk melakukan kekerasan. Bagai sekor gajah yang sedang mengamuk merusak dan menginjak-injak apa saja yang ada di dekatnya. Oleh karena itu, dalam keadaan begini laki-laki sangat rentan melakukan perselingkuhan, pengrusakakan dan penganiayaan. Ini bisa dipahami keadan jiwa laki-laki dalam suasana ini sangat mudah tersinggung dan marah. Sebab secara naluriah akan tertekan jiwanya karena faktor biologis yang terhambat.

 

Hidup berumah tangga dan Sebuah Pilihan.

Hidup ini selalu ada dua pilihan, memilih yang baik atau yang buruk, memilih yang sesaat atau berkelanjutan, memilih yang menyenangkan atau malah menyusahkan, dan lain sebagainya. Insan manusia memang diberi kebabasan untuk memilih apa saja yang diingikannya, tetapi harus ada satu pilihan yang akan diterimanya, tidaklah mungkin kedua-duanya mampu direngkuhnya.

Membahas keinginan manusia memang tiada habis-habisnya, segala sesuatu selalu saja ingin dimilkinya. Dan kalau semua itu ditururi begitu saja pasti takkan pernah ada akhirnya. Insan manusia selalu melihat sesuatu yang lain itu lebih baik dan menarik daripada apa yang dimilkinya. Selalu menginginkan yang baru dari pada apa yang sudah lama dimilkinya, sesuatu yang lain daripada yang sudah ada. Itu semua adalah sifat naluriah manusia yang diciptakan mempunyai perasaan dan harapan-harapan. Manusia memang diberi kebebasan untuk menikmati dari 'hasil terakhir' dari sebuah pilihan dengan resiko yang telah disiapkan, apakah lebih menyenangkan atau malah kesusahan dan kesulitan yang akan didapatkannya.

Keinginan manusia terhadap sesuatu yang baru, dapat diibaratkan dengan seseorang  memiliki sepeda motor atau mobil (sesuatu atau barang) baru untuk pertama kalinya. Betapa bahagia dan menyenangkan saat itu, seakan kepuasan dan kenikmatan mencapai puncaknya waktu itu. Kendaraan tersebut selalu dipakainya dengan penuh kemantapan, sangat ia sayangi, dibelai-belainya, dilap berkali-kali seakan debu tak boleh mengotorinya, dilindunginya dengan penuh kehati-hatian supaya tak tergores oleh sesuatu. Hari-hari bagai menjadi miliknya. Matahari serasa terang benderang menyinarinya. Bagai hidup melayang-layang penuh kebahagiaan.

Namun sayang waktu terus berlalu, kayu dan besi yang kokoh itu akhirnya sedikit demi sedikit keropos dan lapuk juga, oleh hujan dan panasnya matahari. Segala sesuatu yang baru akan menjadi biasa, bahkan tak menutup kemungkinan mulai membosankan atau malah menjengkelkan.Kepuasaan dan kesenangan itupun semakin memudar. Dan hidup sudah mulai membosankan dan kurang bermakna. Sesuatu yang baru itu sudah mulai nampak kelemahan dan kekurangannya.

Kemudian ia mulai banyak melihat banyak kendaraan yang baru mulai bermunculan sekaligus menggiurkan. Kendaraan baru itu selalu ditampilkan dengan penuh keunggulan, kelebihan dan kenyaman yang lebih menjanjikan. Siapa insan manusia yang tak tergoda oleh kemolekannya. Karena mampu dan ada akhirnya membelinya. Hari-hari kembali menjadi miliknya, keceriaan dan semangat mulai terdorong lagi olehnya, perasaan dan khayalannya telah banyak tertumpah kepadanya. Kendaraan yang lalu sudah tidak menjadi perhatiannya.

Waktu juga terus berlalu tanpa ada yang mampu mencegahnya. Keadaan yang memuncak lama kelamaan menurun juga, seperti sedia kala. Terus menerus berputar tiada henti-hentinya. Keinginan demi keinginan kalau dituruti ternyata juga tiada akhirnya. Kenikmatan yang memuncak saat itu terasa hanya sebentar saja. Tidak jarang hidup kembali membosankan dan menjengkelkan. Sampai kapan waktu itu terhenti seperti ketika ia meraih hari-hari yang sangat menyenangkan itu. Tentu saja mustahil ada yang mampu melakukannya.

Di lain pihak, ada sedikit orang yang kreartif menyiasati hidup yang selalu tidak pasti ini. Yang masih bertahan pada kendaraan satu-satunya. Yang memang diniatkan dibelinya untuk dipakai dan dirawatnya. Ia siasati hari demi hari dengan fariasi, modifikasi dan perbaikan-perbaikan disana sini. Selalu ia pertahankan kepuasan demi kepuasan dan kesenangan demi kesenangan dengan kreasi. Ia juga terus mempertahankan kendaraan tersebut sehingga masih mantap untuk dinaiki. Mempertahankannya untuk selalu tampak menarik hati. Terus dan terus berusaha berkrasi menyiasati kepuasan hidup yang terus berjalan ini.

Walau mungkin, kendaraan tersebut dibelinya dalam keadaan yang tidak baru lagi. Namun ia tetap percaya diri untuk mampu menjadikannya tetap menarik di hati. Ia sadar betul bahwa kepuasan hidup sejati tidak harus diperoleh dari memilki sesuatu yang selalu baru. Karena ia sadar bahwa yang baru itu mempunyai 'nilai baru'  hanya  beberapa waktu berlalu, selanjutnya pasti barang tersebut akan menjadi barang yang biasa saja, tidak kurang dan tidak lebih. Karena suatu sifat yang baru hanya berlaku pada suatu saat tertentu saja.

Sudah selayaknyalah kita harus memilih sesuatu yang seharusnya, yang permanen, yang cenderung kekal didalamnya. Sehingga kita mampu menikmati hidup ini dengan wajar dan selayaknya. Bukan naik-turun dengan cepat dan cenderung mengakibatkan goncangan-goncangan. Kalau toh harus naik turun, sudah selayaknya kita memilih jalan yang malah bisa menyenangkan, bukan tiba-tiba dan tajam. Akan tetapi jalan naik-turun yang landai dan sekaligus bisa untuk dinikmati,.yang kemudian justru menimbulkan kesenangan-kesenangan tersendiri.

Namun akhirnya semua kembali pada insan manusia yang bersangkutan untuk memilih jalan hidupnya, dengan segala resikonya. Tiada hak yang memaksa untuk melakukan sesuatu dalam hidupnya. Kecuali hanya mampu menjelaskan dan memahamkan hidup yang sewajarnya. Hidup yang bersifat tetap dan tidak mudah goyah. Hidup yang didalamnya mengadunng kesenangan dan kepuasan sejati, bukan semu, yang mudah sekali mengombang-ambingkan kesenangan hidup kita pada sesuatu keadaan yang cenderung tidak pasti. Banyak cara yang bisa ditempuh untuk mendapatkannya. Dan tidak ada tempat untuk merasa dirinya tidak mampu melakukannya, kecuali dengan niat dan tekad yang begitu kuat. Semua akan dikembalikan pada dirinya sendiri untuk memilihnya.

 

Tentang Hukum Islam dan Poligami ?

Berbicara tentang agama kita tidak bisa menjalankan dengan setengah -setengah, semua harus dilakukan sebagai satu kesatuan. Namun yang jelas seseorang harus mencerminkan budi pekerti yang luhur sebagai cermin dari keluhuran ajaran agama tersebut. Oleh karena itu, seorang yang mencoba mendasari kehidupannya dengan landasan agama harus siap menjalankan apa-apa yang memang diajarkan oleh agama tersebut.

Kita tidak bisa mengambil dasar-dasar agama yang kita perlukan saja, namun mengabaikan dasar-dasar ajaran agama yang lainnya. Sebab kalau hal itu terjadi sama saja kita melakukkan kemubadziran yang sama sekali tanpa arti. Oleh karena itu, sebelum kita memantabkan diri melakukan sesuatu itu berlandaskan agama tertentu, sudah selanyaknyalah kita pantas bertanya pada diri kita sendiri : Apakah kita sudah dan akan benar-benar melakukan apa-apa yang telah diajarkan oleh agama tersebut ? Ataukah kita sudah mampu untuk tunduk pada ajaran yang diajarkan oleh agama itu, sedemikian rupa sehingga semua permasalahan yang ada disandarkan kepadanya ? Ataukah kita melakukan itu hanya karena pada suatu keadaan yang emosional saja dan tidak berkelanjutan ? Dan banyak hal yang harus kita pertanyakan pada diri kita.

Agama adalah kearifan, kejujuran, keadilan dan kasih sayang yang ada pada tempatnya. Dengan landasan agama tidaklah mungkin kita akan menciptakan ketidakadilan, kebohongan, ada yang merasa teraniaya akibat tindakan kita, dan segala sesuatu yang dapat menciptakan ketidaknyamanan-ketidaknyamanan dan kekhawatiran-kekhawatiran orang disekitarnya.  Agama harus mampu menjadi penyejuk hati, pelepas dahaga, dan kebaikkan -kebaikkan yang ditebarkannya. Minimal Kita harus mampu memberi pemahaman kepada mereka apa maksud dibalik semua ajaran agama tersebut.

Setelah kita mampu memahami dan menjalankan apa-apa yang menjadi pesan dalam ajaran agama (khususnya Islam), sudah saatnyalah kita sedikit membahas masalah poligami dalam ajaran Islam. Pada dasarnya ajaran Islam memperbolehkan seseorang melakukan poligami, namun dengan syarat-syarat yang agak ketat. Poligami adalah sebuah realitas yang ada dimuka bumi ini. Sebuah realitas yang mampu menjawab kenyataan-kenyataan yang ada. Akan tetapi sayang telah banyak disalahartikan dan disalahgunakan. Sehingga yang terjadi bukannya pemecahan atas realitas yang ada, akan tetapi malah banyak menimbulkan banyak masalah dan keburukan. Semua orang merasa mampu untuk melakukan dengan tujuan yang mulia, tetapi pada kenyataannya, yang terjadi hanyalah sekedar mencari kesenangan-kesenangan belaka, jauh dari harapan agama untuk memberi solusi yang disalahgunakannya

Hal-hal itulah yang telah menjadi momok bagi kaum wanita. Ini sangat bisa dipahami atas jawaban masa lalu yang cenderung memojokkannya. Mereka sebagian besar sudah anti pati dengannya (poligami). Namun sayang sebagian besar dari mereka (wanita) tidak mengimbanginya dengan usaha sebagaimana yang diharapkan oleh pesan-pesan dalam ajaran agama. Mereka lupa atau tidak mau tahu maksud luhur dari ajaran agama yang diyakininya. Mereka umumnya lalai untuk berusaha supanya realitas yang ada, paling tidak, tak terjadi pada keluarganya. Demikian sehingga, perselingkuhan, pemerkosaan, pelacuran dan segala bentuk penyimpangan tidak terjadi dibelahan bumi ini. Inilah persoalan yang sekarang masih sulit untuk dipecahkan dan dipahamkan oleh siapa saja. Masalah ini masih terus mengambang tiada kejelasan di negeri tercinta ini. Mudah-mudahan pada suatu ketika, Tuhan akan menjernihkan persoalan ini dengan gamblang, amiin !

 

 

*) adalah Pengasuh Konsultasi Kehidupan

    pada Situs www.duhgusti.com