*** Ber-Amal ! Sekaligus Mendapat Jasa ! ***

 *** Waspadai Sumber Keonaran & Kericuhan di Lingkungan Anda ! ***

 

 

Khasus Suap di MA, sudah selanyaknya dijadikan Momentum Pemberantasan Korupsi !

Membongkar Mafia Peradilan di Mahkamah Agung.

Oleh :  R.M. Sedan Mangku Lelakon  *)

 

Khasus suap menyuap yang menyeruak di Mahkamah Agung, tak lepas dari peran Probosutedjo yang membuka khasus pemerasan yang terjadi pada dirinya. Seperti yang sudah-sudah, jurus kuda-kuda saling menyanggah dan melempar tanggungjawabpun mulai mengemuka. Inilah kebiasaan yang sangat sering terjadi pada khasus-khasus suap ataupun korupsi selama ini. Semua berusaha menyelamatkan diri, walaupun sebenarnya melakukan atau kemungkinan kecil saja tidak melakukan.

 

Ini mengingatkan kita pada khasus Mulyana pada khasus suap-menyuap dan korupsi yang terjadi di KPU. Semua seakan tidak menyadari, jika seandainya khasus penyuapan yang dilakukan Mulyana tidak di rekam melalui kamera digital, bisa jadi khasus korupsi di KPU tidak menutup kemungkinan sangat sulit untuk dibongkar. Namun, karena bukti sudah begitu mencolok mata, maka terbongkarlah kasus korupsi di lembaga itu dengan mudah. Semua seakan tidak menyadari, jika seandainya bukti awal, rekaman kamera digital yang sudah tidak bisa dipungkiri lagi itu tidak ada, maka bisa jadi khasus korupsi yang terjadi di tubuh KPU-pun bisa menemukan benang kusut.

 

Dengan demikian, sudah sepantasnya khasus suap yang terjadi di Mahkamah Agung disikapi dengan jernih dan dijadikan langkah awal untuk membongkar segala bentuk korupsi yang terjadi di dalamnya. Hal ini harus dilakukan untuk mencegah khasus tersebut berkembang menjadi ajang ancam-mengancam dan tuding menuding, yang pada akhirnya malah membuat benang kusut jalannya pemberantasan korupsi.

 

 

Adalah kebohongan yang nyata, bahwa lembaga negara atau pemerintah bersih dari praktek-pratek korupsi !

 

Sudah bukan menjadi rahasia umum, bahwa tindak korupsi dan suap-menyuap adalah hal yang wajar terjadi di lembaga tinggi negara maupun institusi pemerintah. Semua seakan sudah menyakini walaupun sulit untuk memberi bukti. Bahkan masyarakat sudah begitu muak dengan banyaknya akrobat yang sering terjadi di lembaga ataupun institusi yang ada di bangsa dan negara ini, yang selalu saja dipertontonkan bersih dari praktek-pratek korupsi. Akan tetapi, kenyataan dan pengalaman masyarakat telah menyaksikan apa yang telah terjadi dengan institusi tersebut.

 

Bahkan banyak tokoh masyarakat sering mensiyalir adanya banyak mafia-mafia yang bergentayangan mencari setiap peluang yang ada di setiap lembaga ataupun institusi pemerintah yang ada. Semua seakan sudah jengah dan bosan ketika ada usaha membongkar praktek-pratek korupsi, selalu kandas dan tak banyak membuahkan hasil apa-apa.

 

Jurus saling melempar tanggung jawab dan saling mengancam yang terjadi dikalangan pejabatpun seakan selalu mematahkan adanya praktek-praktek korupsi yang terjadi. Semua seakan mandek, karenanya ternyata tidak sedikit yang terlibat di dalamnya. Semua seakan saling kait-mengkait dan berhenti pada ujung yang sulit untuk di jamah. Dan hukumpun menjadi diam oleh kekuatan yang telah membuat semua menjadi bisu. Hukumpun mejadi tak mampu berbuat apa-apa dan praktek korupsipun terus berjalan seperti yang dulu ada. Yang selalu ada dan terasa, namun tidak bisa diraba.

 

 

 

Harus ada Target untuk melakukan pembersihan praktek-praktek korupsi dilembaga pemerintah ataupun negara !

 

Ini perlu di tekankan dan ditegaskan kalau pemerintah mau konsisten menegakan kebijakan pemberantasan korupsi. Dengan demikian pemerintahpun harus siap membersihkan diri dari pejabat-pejabat yang terlibat korupsi. Pemerintah harus konsisten untuk memulai dari pemerintah sendiri, baik di lembaga maupun institusi pemerintah sendiri. Namun jika pemerintah, dalam hal ini lembaga maupun institusi, terlalu rajin membela diri daripada membersihkan diri, maka dapat dipastikan bahwa penegakan korupsipun akan menemukan benang yang kusut.

 

Dalam khasus suap yang terjadi di Mahkamah Agung, jika pemerintah lebih suka mengarahkan kepada kasus suap-menyuap yang terjadi, maka dapat dipastikan persoalanpun berubah menjadi saling mengancam, dan seperti yang sudah-sudah, semuapun (yang terlibat) akan menyelamatkan diri. Khasus suap-menyuapun menjadi mesteri, karena akan mengancam siappun yang terlibat di dalamnya. Keadaan inilah yang menjadikan semua menjadi tak berkesudahan serta tidak akan membawa hasil dalam upaya pemberantasan korupsi.

 

Ini akan berbeda jika khasus suap menyuap dijadikan langkah awal untuk membongkar praktek-praktek korupsi yang ada di lembaga pemerintah tersebut. Dan jika ada kejelian dari pihak Komisi Pemberantas Korupsi (atau yang terkait), maka tidak menutup kemungkinan khasus suap-menyuap bisa melebar menjadi kasus korupsi atau masalah-masalah hukum lainnya.

 

 

Sudah sepantasnya Probosutedjo diberi Tempat !

 

Keberanian Probosutedjo membongkar khasus suap-menyuap sudah selayaknya mendapat apresiasi, ini terlepas dari track record dia sebagai pengusaha yang telah dibesarkan oleh masa lalu. Sebuah budaya masa lalu yang memang cukup kelam dalam kaitan dengan tindak korupsi. Semua pastilah tidak bisa menyanggah dengan apa yang telah terjadi dengan budaya bangsa ini. Budaya bangsa yang telah sangat berkelepotan dengan tindak korupsi. Dan hanya orang yang tak punya nuranilah yang akan mengatakan bahwa budaya korupsi tidak pernah terjadi pada bansa ini.

 

Sudah sepantasnyalah, Probosutedjo di beri tempat, karena hanya dialah sebagai saksi yang bisa dijadikan langkah awal niat pemerintah memberantas korupsi. Sebab sebagai saksi dan bagian dari budaya yang memang ada pada bangsa ini, hanya orang seperti Probosutedjolah yang bisa dijadikan bukti nyata akan apa yang sebenarnya telah terjadi pada bangsa ini. Beruntunglah Probosutedjo merasa mempunyai alasan diperas dalam khasus ini. Sehingga Beliaupun bisa membuka mata hati masyarakat indonesia tentang apa yang sebenarnya ada dan terjadi dengan bangsa ini.

 

Berkaitan dengan ini, masyarakat seakan yakin, jika banyak Probosutedjo-Probosutedjo yang lainya ( yang merasa diperas ataupun tidak) punya nyali seperti yang dilakukan olehnya, niscaya akan terbongkarlah banyak tabir yang telah menyelimuti bangsa ini. Semua pastilah akan segera nampak jelas dengan apa yang telah dirasakan oleh Masyarakat Indonesia selama ini. Tentu saja, orang-orang yang serakah dan tak punya nurani akan segera kelihatan di balik kewibawaan dan jabatannya. Dan kalau ini bisa terjadi, maka para calon tersangka korupsipun seakan hanya tinggal menunggu nasib yang harus dipertanggungjawabkannya. Semoga khasus suap-menyuap di Mahkamah Agung tidak menjadi pertunjukan drama yang saling ancam-mengancam dan menyelamatkan diri !

 

Minggu, 16 Oktober 2005

 

 

Topik-Topik Sosial - Politik :