|
Yang bisa dilakukan dalam berpacaran ?
Sebelumnya, jujur saja, berat rasanya kami harus mengulas tentang kenyataan ini ( tentang pacaran). Namun, menurut kami, tidak ada salahnya ini bisa dijadikan bahan renungan ataupun sesuatu yang ideal, yang mungkin bisa dilakukan untuk menghindar dari kejamnya jiwa cinta itu sendiri. Kejamnya jiwa cinta yang sangat mungkin terjadi akibat pertemuan dua anak manusia yang sedang dimabuk cinta. Kejamnya cinta yang harus menerima pengkianatan dari salah satunya.
Kejamnya cinta, yang ternyata tanpa disadarinya telah menjebak mereka pada hubungan (sex) yang belum siap diterimanya. Kejamnya cinta, karena harus menanggung malu dibuatnya. Kejamnya cinta yang mampu menghancurkan hati yang punya. Kejamnya cinta yang mampu membuat mereka mengakhiri hidupnya. Kejamnya cinta akibat tidak tahu harus berbuat bagaimana tentangnya. Sebab begitulah hawa nafsu cinta yang akan menuntunnya !
Sungguh berat ! untuk menyampaikan ini semua. Sebab kami menyadari ini seakan kolot dan puritan adanya. Terlalu kaku dan sempit pemikirannya. Namun mau apa dikata, sampai saat ini, kami tidak melihat jalan lain yang lebih aman untuk dilakukan dan dinikmati pelajarannya. Sekali lagi, mohon maaf lah !
Harus ada kesadaran menerima perpisahan ? Awalnya harus ada kesadaran bahwa pendekatan karena cinta hanyalah sebuah pembelajaran. Sebuah pembelajaran akan adanya pertemuan dan perpisahan. Untuk ini haruslah disadari apa yang akan terjadi yang bisa ditoleransi mereka berdua. Sehingga, jika ternyata harus ada perpisahan (ketidak cocokan salah satunya), maka tidak ada yang merasa disakiti dan dirugikan karenanya. Ditoleransi aktifitas cinta apa saja yang tidak harus meninggalkan luka yang begitu berat dirasa. Dan kemudian, merekapun harus rela menerima perpisahan, kenangan, dan aktifitas cinta yang terjadi tersebut, seandainya mereka harus berpisah karenanya. Sebab itulah makna adanya pertemuan cinta !
Tentu saja hal diatas tidak akan menjadikan trauma salah satunya, akibat perbuatan yang sangat merugikan satu atau kedua belah pihak. Untuk ini, perbuatan atau aktifitas apa saja yang mungkin perlu dibatasi dalam masa itu (pacaran atau pendekatan yang berlandaskan cinta). Aktifitas dan perbuatan apa saja yang bisa ditoleransi mereka berdua akibat adanya hawa nafsu cinta itu. Sehingga jika harus terjadi perpisahan, mereka dengan sadar menerimanya. Menerimanya oleh akibat ketidakcocokan yang muncul karenanya. Menerimanya sebagai proses pembelajaran untuk berpisah atau dilanjutkan ke pelaminan !
Harus ada batasan waktu untuk memutuskan ? Singkatnya, kalau rentang pacaran sudah mendorong perbuatan yang membahayakan, maka sudah sepantasnyalah untuk segera diputuskan. Diputuskan untuk segera meneruskan ke jenjang pernikahan atau memutuskan untuk mengakhirinya.
Agak janggal memang, bagaimana mungkin ketika cinta sudah memasuki tahap puncak-puncaknya, malah akan diakhirinya ? Sebab hal ini harus dilakukan, oleh karena hubungan sex hanya tinggal menunggu waktu tiba. Inilah yang kami maksud membahayakan. Membahayakan karena irama cinta akan menjadi tak terduga akibatnya. Akibat irama cinta yang sudah pada puncaknya. Pada puncaknya yang tak mungkin irama cinta terus berada di sana. Rentan waktu pastilah menuntun irama cinta untuk segera menuruni puncak yang telah dilaluinya. Dan irama cinta itupun bisa menjadi malapetaka dibuatnya. Malapetaka cinta yang ternyata bisa merubah irama cinta sebelumnya. Sebelumnya, ketika irama cinta belum berada di puncaknya.
Nah, ketika irama cinta mulai menurun, maka akan mulai tampak apakah yang sebenarnya terjadi pada cinta mereka. Karena cintakah atau hanya karena hawa nafsu belaka-kah ? Akan tetapi, karena sifat manusia yang memang selalu hanya ingin enak dan menangnya sendiri, maka keberanian menikmati puncaknya cinta sebelum ikatan resmi, sangat berpeluang besar bahwa itulah yang telah menjadi maunya saja. Kalau sudah begitu maunya, maka tidaklah mungkin mampu menjujung tinggi nilai luhur cinta yang memang seharusnya di junjung tinggi itu.
Sebab kalau memang mereka ingin menjujung tinggi nilai luhur arti sebuah cinta, tidaklah mungkin mereka melakukannya hanya demi untuk mainan. Logika inipun akan membuktikan, jika mereka melakukannya karena cinta, pastilah puncaknya cinta akan dilakukan setelah mereka resmi menetapkan cintanya. Atau, mereka akan meneruskan cintanya menjadi ketetapan cinta sejatinya (mengutamakan menikah dulu), karena sudah merasa memiliki cinta yang sejati-sejatinya. Dan merekapun akan menikmati puncak cintanya dengan penuh rasa cinta dan tanggung jawabnya.
Bukan sebagai cinta mainan, menghargai murah cinta dengan hawa nafsu-tanpa cinta dan memandang rendah arti cinta yang seharus luhur ini. Sehingga merekapun bak srigala berbulu domba yang tampil seperti dewa cinta, awal mulanya. Dan tentu saja, merekapun tidak akan pernah menempatkan luhurnya cinta, namun hanya hawa nafsu belaka ! Maka ikatan resmi tiada guna bagi mereka, karena memang itu bukan tujuannya. Bukan tujuannya, oleh sebab mereka hanya memburu hawa nafsu belaka dan bukan karena cinta yang sejatinya. Dan kalau sudah mendapatkannya, merekapun berusaha lari dari tanggung jawabnya !
Begitulah, kalau nilai luhurnya cinta sudah di hargai serendah-rendahnya. Pastilah berbagai alasan dan kebohongannya akan membuatnya menghindar dari tanggung jawab yang ada. Sebab itu bukan tujuannya ! Dan bagi mereka cintapun dianggap tidak ada apa-apanya ! Terus siapakah yang pantas disalahkan kecuali dirinya sendiri ? Ingat jangan sampai ketinggalan satu topikpun, karena disana banyak rahasia hidup yang telah banyak dilupakan oleh sebagian besar orang. Dijamin ! Kalau anda bisa mengambil hikmah dan pelajaran dari semua topik yang ada, Niscaya serasa jiwa anda baru bangun dari tidur yang terlalu lama !. Terimakasih !
|